Media Kampung, MartapuraKabut asap tebal yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Martapura, Kalimantan Selatan, menyebabkan jarak pandang di sejumlah kawasan hanya berkisar antara 1 hingga 4 meter. Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama para pengendara dan mereka yang beraktivitas di luar ruangan.

Kabut asap ini paling parah terjadi pada pagi hari, menciptakan suasana yang menyerupai kota dalam film horor. Pengendara di wilayah tersebut harus meningkatkan kewaspadaan ekstra dengan menyalakan lampu kendaraan dan membunyikan klakson untuk menghindari kecelakaan akibat jarak pandang yang sangat terbatas. Salah satu pengendara, Ahmad, bahkan memilih untuk berhenti sementara karena kondisi jarak pandang yang sangat pendek dan berbahaya.

Baca juga:

Kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi di Kabupaten Banjar sejak sepekan terakhir diduga menjadi penyebab utama dari kabut asap pekat ini. Kondisi ini tidak hanya mengganggu keselamatan berkendara, tetapi juga berdampak negatif pada kesehatan masyarakat, terutama fungsi pernapasan. Warga yang melakukan aktivitas luar ruang, seperti olahraga pagi, mengaku harus menggunakan masker meskipun membuat pernapasan menjadi lebih berat.

Baca juga:

Warga berharap pemerintah dapat mengambil tindakan tegas dan efektif untuk menangani kebakaran hutan dan lahan agar kabut asap dapat segera teratasi dan tidak semakin membahayakan masyarakat. Selain pemadaman, pemerintah juga diharapkan melakukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab kebakaran, terutama jika ada indikasi pembakaran lahan secara sengaja untuk membuka lahan perkebunan atau keperluan lainnya.

Baca juga:

Kondisi kabut asap ini menjadi perhatian serius bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat di Martapura. Langkah pencegahan dan penanganan karhutla yang lebih intensif sangat diperlukan untuk mengurangi dampak buruk kabut asap yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.