Media Kampung – 16 April 2026 | Siswa di Jubung Terpaksa Naik Raket Seberangi Sungai setelah jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Darungan dengan Krajan rusak akibat banjir, memaksa anak‑anak sekolah menempuh rute berbahaya untuk mencapai kelas. Kejadian ini dilaporkan pada Rabu, 15 April 2026, oleh Kantor Regional Radio Republik Indonesia (RRI) Jember.

Kejadian terjadi di Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, tepatnya di sungai Bedadung yang melintasi wilayah tersebut. Menurut Camat Sukorambi, Musyafak, jembatan itu telah mengalami dua kali kerusakan dalam beberapa bulan terakhir, pertama pada Desember 2025 dan kembali roboh pada Februari 2026 setelah hujan deras.

Akibat kerusakan itu, sekitar lima siswa dari SDN 3 Jubung terpaksa menyeberang menggunakan rakit tradisional yang disebut ‘getek’ untuk tiba di sekolah. Musyafak menyatakan, ‘Ada sekitar lima siswa yang terdampak langsung dan harus menyeberang sungai dengan menggunakan getek atau rakit,’ saat disiarkan dalam program Halo RRI.

Masyarakat setempat sebelumnya sempat memperbaiki jembatan secara swadaya setelah kerusakan Desember 2025, namun upaya tersebut tidak cukup kuat menahan curah hujan intensif. Alternatif jalur melalui Mangli atau Kaliwining memang tersedia, namun jaraknya memakan waktu sekitar 45 menit, sehingga sebagian warga memilih rakit sebagai opsi tercepat.

Penggunaan rakit menimbulkan risiko tinggi, terutama ketika debit air meningkat atau terjadi arus deras. Camat Musyafak menegaskan, ‘Kami melarang penyeberangan jika kondisi hujan atau arus sungai deras karena membahayakan,’ dan mengimbau warga menunda perjalanan bila tidak mendesak.

Sebagai respons sementara, pemerintah desa menambah pengaman pada rakit dengan tali seling serta menyediakan pelampung bagi anak‑anak. Langkah ini bertujuan mengurangi potensi kecelakaan hingga jembatan gantung dapat dibangun kembali.

Pembangunan kembali jembatan gantung kini berada dalam proses pengadaan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dengan target dimulainya pekerjaan fisik dalam waktu dekat. Sementara itu, BPBD dan aparat kecamatan terus melakukan evaluasi keamanan penyeberangan serta mengedukasi warga tentang bahaya arus sungai.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas belajar, tetapi juga mempengaruhi pekerja rumah tangga (ART) dari desa‑desa sekitar seperti Ajung dan Jenggawah yang mengandalkan jembatan tersebut untuk menghemat waktu perjalanan. Keterbatasan akses memperpanjang waktu tempuh mereka, sehingga menambah beban ekonomi keluarga.

Masyarakat Jubung diharapkan bersabar dan mengikuti arahan resmi hingga jembatan selesai dibangun, demi menjamin keselamatan anak‑anak dan kelancaran aktivitas sehari‑hari. Pihak berwenang berjanji akan mempercepat proses konstruksi agar akses pendidikan tidak lagi terancam.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.