Media Kampung – Sebuah video yang memperlihatkan seorang anggota DPRD Jember yang terlihat bermain game online saat rapat membahas isu stunting dan kesehatan menjadi viral dan mendapat kecaman dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Perilaku tersebut dianggap tidak pantas karena rapat itu membahas masalah serius yang berdampak pada masa depan generasi muda.
Anggota DPRD yang menjadi sorotan adalah Achmad Syahri As Siddiqi, anggota termuda di DPRD Jember berusia 26 tahun. Rekaman tersebut menunjukkan dia memainkan game diduga Clash of Clans sambil merokok saat rapat dengar pendapat Komisi D pada Senin, 11 Mei 2026.
Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jember mengecam tindakan tersebut karena dianggap mencerminkan penurunan moral politik dan menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap persoalan stunting yang sedang dibahas. Wakil Ketua Bidang Politik DPC GMNI Jember, Mochammad Faizin, menyatakan bahwa bermain game saat membahas masalah krusial seperti stunting adalah bentuk penghinaan terhadap penderitaan rakyat.
Faizin juga menyoroti bahwa perilaku tersebut menunjukkan rendahnya kesadaran wakil rakyat terhadap tanggung jawab publik. Ia mengingatkan bahwa rapat DPRD dibiayai oleh anggaran yang bersumber dari uang rakyat, dan dalam dokumen anggaran tahun 2026, alokasi untuk rapat koordinasi SKPD di Kabupaten Jember mencapai ratusan juta rupiah. Namun, uang tersebut seakan tidak dihargai saat anggota DPRD memperlihatkan sikap tidak serius di ruang rapat.
Selain itu, Faizin menyoroti ironi perilaku anggota DPRD muda ini yang berasal dari generasi Z. Ia berpendapat generasi muda harus bisa menunjukkan kedisiplinan, intelektualitas, dan tanggung jawab sosial dalam kegiatan kelembagaan negara. Sebaliknya, tindakan bermain game saat rapat justru memperkuat stigma negatif terhadap generasi muda yang dianggap malas dan kecanduan game tanpa memperhatikan situasi.
Faizin juga menegaskan bahwa pendidikan formal dan gelar akademik tidak menjamin kualitas etika dan pola pikir pejabat publik. Menurutnya, yang paling penting adalah pendidikan politik, disiplin organisasi, dan kesadaran moral bahwa jabatan publik adalah amanah rakyat, bukan tempat untuk memenuhi keinginan pribadi.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak DPRD Jember terkait insiden tersebut. Namun, kasus ini telah memicu diskusi luas tentang profesionalisme dan etika anggota legislatif, terutama yang berusia muda, dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan