Media Kampung – BPBD Jember melaporkan penanganan 276 bencana sejak Januari hingga akhir Maret 2026, menegaskan posisi daerah ini sebagai pusat risiko alam.

Bencana alam yang tercatat didominasi oleh banjir, tanah longsor, dan angin kencang, yang semuanya dipicu oleh intensitas hujan tinggi pada awal tahun.

Hujan deras bersamaan dengan petir dan angin kencang sering menyebabkan pohon tumbang, menambah kerusakan struktural pada fasilitas publik dan rumah warga.

Salah satu insiden paling signifikan terjadi di Kecamatan Wuluhan, dimana hujan lebat dan angin kencang berlangsung selama dua hingga tiga jam.

Di Desa Kesilir dan Desa Tanjungrejo tercatat 51 pohon tumbang serta 14 gudang tembakau roboh, menambah beban ekonomi bagi petani dan pedagang setempat.

BPBD Jember memberikan apresiasi kepada Tim Reaksi Cepat (TRC) dan relawan yang melakukan deteksi dini serta pelaporan cepat, sehingga respons penanganan dapat dilakukan segera.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, mengenali potensi bahaya di lingkungan masing‑masing, serta melaporkan ancaman secara cepat kepada pihak berwenang.

Langkah mitigasi meliputi tiga poin utama: pertama, mengenali potensi bencana lokal seperti titik rawan longsor atau daerah rawan banjir; kedua, melestarikan vegetasi dengan menanam pohon untuk menahan air dan meredam angin; ketiga, melaporkan setiap indikasi bahaya secara instan.

Istilah “supermarket bencana” kerap melekat pada Jember karena keragaman dan frekuensi peristiwa, namun sinergi antara pemerintah, relawan, dan masyarakat diharapkan dapat meredam dampaknya.

Edy Budi Susilo menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk menurunkan status Jember sebagai pusat bencana, sekaligus meningkatkan kesiapan mitigasi jangka panjang.

Saat ini, BPBD Jember terus memantau kondisi cuaca dan melakukan penilaian risiko secara real‑time, memastikan respons cepat bila terjadi pergerakan cuaca ekstrem selanjutnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.