Media Kampung – Badannya mencatat total 276 kejadian bencana di Kabupaten Jember antara 2 Januari hingga akhir Maret 2026, sehingga daerah tersebut dijuluki sebagai “Supermarket Bencana” oleh kepala BPBD.

Dari total tersebut, 243 peristiwa merupakan bencana alam murni, sementara 33 lainnya meliputi kecelakaan, kebakaran, dan insiden terkait infrastruktur.

Jenis bencana alam yang paling sering terjadi adalah banjir, tanah longsor, dan angin kencang, yang bersama‑sama menyumbang lebih dari 80% dari 243 kejadian alam.

Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, menyampaikan bahwa frekuensi dan variasi bencana yang tinggi membuat situasi di Jember menyerupai pasar yang selalu dipenuhi produk bencana.

Kecamatan Wuluhan menjadi sorotan khusus karena mengalami curah hujan ekstrem dalam waktu singkat, memicu banjir bandang dan longsor yang merusak infrastruktur desa.

Edy memuji Tim Reaksi Cepat (TRC) serta relawan lokal seperti Gumitir, Cak Mat, dan Cak Sul, yang berperan penting dalam deteksi dini dan pelaporan cepat dari lapangan.

BPBD Jember mengimbau warga untuk memperkuat mitigasi mandiri dengan memahami jenis ancaman di lingkungan masing‑masing serta aktif menjaga vegetasi dan menanam pohon guna meningkatkan daya dukung tanah.

Kondisi geografis Jember yang berganti antara bencana hidrometeorologi (banjir/longsor) dan periode kekeringan menuntut kesiapsiagaan terus‑menerus, terutama di musim hujan.

Pihak berwenang terus memantau perkembangan cuaca dan memperbaharui sistem peringatan dini, sekaligus melaksanakan pelatihan kesiapsiagaan bagi masyarakat di daerah rawan.

Upaya kolaboratif antara BPBD, aparat keamanan, dan relawan lokal diharapkan dapat menurunkan dampak bencana di sisa tahun 2026.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.