Media Kampung – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 9 (Daop 9) Jember menutup tiga perlintasan liar pada akhir April 2026 sebagai bagian dari program peningkatan keselamatan perjalanan kereta api di wilayahnya.
Langkah ini dilaksanakan pada periode Januari hingga April 2026 setelah evaluasi menyeluruh terhadap 291 perlintasan sebidang yang tersebar di kabupaten-kabupaten di sekitar Jember.
Selama tahun 2025, KAI telah menutup 13 perlintasan tidak resmi dan menyempitkan 16 titik rawan, namun pada kuartal pertama 2026 fokus kembali pada tiga titik kritis yang dianggap berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Perlintasan yang ditutup meliputi jalur antara Stasiun Bayeman‑Probolinggo, Jatiroto‑Tanggul, serta Mrawan‑Kalibaru, masing‑masing berada di daerah dengan tingkat aktivitas penumpang yang tinggi.
Sementara itu, satu perlintasan lain di wilayah Kalisetail‑Temuguruh, Banyuwangi, dipersempit untuk mengurangi kecepatan kendaraan dan memperketat pengawasan.
Manajer Hukum dan Humas Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, menjelaskan bahwa penutupan dan penyempitan perlintasan bertujuan menghilangkan zona konflik antara kereta api dan kendaraan bermotor serta pejalan kaki.
“Ini merupakan langkah preventif yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga bagian dari upaya kemanusiaan untuk melindungi nyawa masyarakat,” ujar Cahyo pada Jumat, 24 April 2026.
Ia menambahkan bahwa perlintasan liar sering menjadi titik rawan karena kurangnya rambu dan kurangnya kesadaran pengguna jalan terhadap bahaya yang mengintai.
Untuk menekan potensi kecelakaan, Daop 9 Jember menggandeng pihak kepolisian, Dinas Perhubungan, serta organisasi kemasyarakatan setempat dalam rangka sosialisasi intensif.
Edukasi dilakukan secara langsung di lokasi perlintasan, sekolah, dan komunitas, dengan menekankan prinsip berhenti, menengok kanan‑kiri, serta memastikan jalur aman sebelum menyeberang.
Program edukasi ini diharapkan menumbuhkan budaya keselamatan sejak dini, sehingga perilaku melanggar rambu dapat berkurang secara signifikan.
Data internal KAI menunjukkan bahwa sejak diterapkannya program edukasi pada awal 2025, jumlah pelanggaran di perlintasan yang dipantau menurun sebesar 27 persen.
KAI juga menyiapkan tim inspeksi lapangan yang melakukan pengecekan rutin pada semua perlintasan sebidang, termasuk yang telah disempitkan, untuk memastikan kondisi fisik dan tanda peringatan tetap terjaga.
Ia menutup pernyataan dengan mengimbau seluruh masyarakat Jember dan sekitarnya untuk berperan aktif dalam menjaga keamanan rel, agar jalur kereta api tetap steril dan aman bagi semua pengguna.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Leave a Reply