Media Kampung – 15 April 2026 | Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, menegaskan pentingnya penghentian perang karena konflik terus menimbulkan penderitaan luas bagi rakyat di berbagai belahan dunia.

Gus Yahya, yang menjabat sebagai ketua umum Nahdlatul Ulama sejak 2021, menyampaikan seruan tersebut dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Jakarta pada 12 April 2026.

Seruan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di wilayah-wilayah seperti Gaza, Ukraina, dan Sudan, yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur secara masif.

Selain korban jiwa, ribuan keluarga kini kehilangan pencarian nafkah utama, sehingga tingkat kemiskinan di daerah terdampak melonjak hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

Dampak ekonomi tersebut juga dirasakan secara global, dengan harga komoditas pangan naik 15 persen dan nilai tukar mata uang negara berkembang terdepresiasi.

Pandangan Gus Yahya didasarkan pada ajaran Islam yang menekankan nilai perdamaian, keadilan, dan perlindungan terhadap nyawa manusia sebagai prioritas utama.

“Perang bukanlah solusi, melainkan menambah penderitaan,” ujar beliau, menegaskan bahwa setiap nyawa yang hilang merupakan kerugian bagi seluruh umat manusia.

Ia menambahkan bahwa umat Islam harus berperan aktif dalam memediasi dialog antar pihak berseteru, dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Pernyataan ini mendapat sambutan positif dari sejumlah tokoh politik dan lembaga kemanusiaan yang menilai seruan damai tersebut relevan dengan situasi saat ini.

Pemerintah Indonesia juga menyatakan komitmen untuk memperkuat upaya diplomatik melalui PBB dan ASEAN guna menurunkan intensitas konflik dan memfasilitasi bantuan kemanusiaan.

Hingga kini, pihak PBNU terus menggalang dukungan dari organisasi keagamaan lain untuk mengadvokasi gencatan senjata dan menyiapkan bantuan darurat bagi korban perang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.