Media Kampung, Jambi — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut mencapai 139,21 hektare sepanjang 1 Januari hingga 6 Juli 2026. Kabupaten Sarolangun menjadi daerah dengan areal terbakar paling luas.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jambi, Andre Eko Rinjani, menyatakan data tersebut merupakan laporan resmi dari pemerintah kabupaten dan kota. “Hingga 6 Juli 2026, luas lahan yang terbakar di Provinsi Jambi tercatat mencapai 139,21 hektare. Data ini merupakan laporan yang sudah disampaikan oleh kabupaten dan kota kepada BPBD Provinsi Jambi,” ujarnya, Rabu, 8 Juli 2026.

Berdasarkan data BPBD, Kabupaten Sarolangun mencatat luas kebakaran terbesar dengan 44,90 hektare. Disusul Kabupaten Batanghari seluas 36,21 hektare, Kabupaten Tanjung Jabung Timur 33,60 hektare, Kabupaten Tebo 20,80 hektare, Kabupaten Muaro Jambi 2,50 hektare, dan Kota Jambi 1,76 hektare.

Andre menjelaskan, angka tersebut masih bersifat dinamis karena sejumlah laporan dari pemerintah kabupaten dan kota masih dalam proses verifikasi. “Masih ada beberapa kejadian yang informasinya sudah kami terima, tetapi belum dapat dimasukkan ke dalam data karena laporan resmi dari kabupaten dan kota masih dalam proses. Jadi kemungkinan angka ini masih bisa bertambah,” katanya.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Provinsi Jambi terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui patroli terpadu, pemantauan titik rawan, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, dan berbagai pihak terkait. Andre menegaskan, BPBD tetap mengedepankan langkah pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, sebagian besar kejadian karhutla masih dipicu oleh aktivitas manusia.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pencegahan jauh lebih efektif karena jika api sudah membakar, terutama di lahan gambut, proses pemadaman akan lebih sulit, memerlukan waktu lama, dan biaya yang besar,” pungkasnya.