Media Kampung – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengungkapkan hasil investigasi awal mengenai kecelakaan yang melibatkan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menekankan bahwa data yang disampaikan merupakan fakta sementara dan belum mencakup analisis atau kesimpulan resmi terkait penyebab kecelakaan tersebut.

Dalam rapat dengar pendapat yang berlangsung di Komisi V DPR RI pada 21 Mei 2026, Soerjanto menjelaskan kronologi peristiwa secara mendetail. KRL Commuter Line KA 5568A tiba di jalur 6 Stasiun Bekasi pada pukul 20.33 WIB dan menunggu KA Sawunggalih untuk melintas. Setelah KA Sawunggalih berangkat pada pukul 20.38 WIB, KA 5568A kemudian diberangkatkan kembali pada pukul 20.45 WIB dan tiba di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.48 WIB.

Beberapa detik setelah kedatangan KRL, terjadi insiden ketika KRL KA 5181 menabrak taksi di dekat Stasiun Bekasi Timur, yang menyebabkan kerumunan warga. Meskipun KA 5568A diberangkatkan kembali, kereta tersebut terpaksa berhenti akibat kerumunan yang disebabkan oleh insiden sebelumnya. Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek melintas di jalur 3 dengan sinyal aman. Tabrakan antara kedua kereta terjadi pada pukul 20.52 WIB.

KNKT mencatat bahwa KRL 5568A mengalami keterlambatan sekitar delapan menit dari jadwal keberangkatan, sedangkan KA Argo Bromo Anggrek melintas tiga menit lebih cepat dari jadwal. Soerjanto menambahkan bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek telah melakukan pengereman sekitar 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan dan membunyikan klakson karena melihat KRL masih berada di depannya, tetapi pengereman tersebut tidak cukup untuk menghentikan kereta.

Selain itu, KNKT juga melakukan investigasi terhadap sistem persinyalan dan komunikasi di jalur tersebut. Terdapat tiga sistem persinyalan terintegrasi di jalur Bekasi saat kejadian. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sinyal keluar Stasiun Bekasi menunjukkan lampu hijau, menandakan aman, sementara sinyal pengulang justru menunjukkan lampu garis datar yang berarti tidak aman.

Masinis KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan mengalami kesulitan melihat sinyal pengulang di malam hari. Pencahayaan dari rumah warga dan lampu jalan dinilai mengganggu visibilitas sinyal di sekitar jalur rel. KNKT mencatat bahwa salah satu penyebab kecelakaan kemungkinan adalah sinyal Stasiun Bekasi yang tidak mendeteksi keberadaan KA 5568A di Bekasi Timur, ditambah dengan gangguan komunikasi radio antara kereta dan pengatur perjalanan stasiun.

Hingga saat ini, KNKT masih melanjutkan investigasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai insiden ini. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menunggu hasil akhir dari investigasi yang lebih komprehensif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.