Media Kampung – Muhammad Firman, remaja asal Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, harus menempuh enam kilometer setiap hari untuk bersekolah. Perjalanan melelahkan itu ia lalui sejak kelas VIII hingga akhirnya memutuskan berhenti sekolah. Kini, melalui program Sekolah Rakyat, Firman kembali bersekolah dan bahkan berhasil meraih peringkat tiga di kelas serta dipersiapkan mengikuti Olimpiade IPA.

Perjuangan Firman Menuju Sekolah

Setiap pagi, sebelum ayam berkokok kedua kali, Firman sudah berjalan kaki menuju SMP negeri di wilayahnya. Jalan tanah, aspal panas, debu kendaraan, dan terik matahari menjadi teman setianya. "Sejak awal kelas VIII hingga semester kedua saya berjalan kaki ke sekolah setiap hari. Saya sering merasa sangat lelah," ujar Firman, Rabu, 24 Juni 2026. Jarak enam kilometer yang hanya butuh belasan menit dengan motor, baginya menjadi perjalanan panjang penuh perjuangan.

Firman sering berangkat tanpa sarapan. Uang sakunya hanya Rp5 ribu, bahkan sering tidak ada. Saat jam istirahat, ia memilih diam di kelas. "Anggap saja sedang puasa. Dari jam 07.00 pagi sampai pulang jam 14.00 WIB," katanya. Ayahnya, Helli, bekerja mencari bekicot di malam hari dengan penghasilan tak menentu. Ibunya, Mariana, menjadi juru parkir di arena sabung ayam. "Saat itu kami tidak memiliki uang untuk membeli bensin sehingga Firman harus berjalan kaki," kenang Mariana.

Putus Sekolah dan Kembali Bersekolah

Kelelahan, rasa lapar, risiko kecelakaan, dan ejekan teman-teman perlahan mengikis semangat Firman. Ia pun memutuskan berhenti sekolah dan bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp20 ribu per hari. Namun, keinginan untuk belajar tak pernah padam. "Saya sering menangis malam-malam karena ingin sekolah lagi," tuturnya. Titik balik datang saat ia mengetahui program Sekolah Rakyat yang membuka akses pendidikan bagi anak kurang mampu. Firman segera meminta izin ibunya untuk mendaftar, meyakinkan bahwa biaya bisa terbantu melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

Kehidupan Baru di Sekolah Rakyat

Setelah masuk Sekolah Rakyat Jember, Firman tinggal di asrama. Ia tak lagi pusing soal transportasi, makan, atau perlengkapan sekolah. Di lingkungan barunya, potensi Firman mulai terlihat. Wali asuhnya, Fazrul, menilai Firman disiplin dan memiliki jiwa kepemimpinan. Ia rajin membangunkan teman-temannya untuk salat berjamaah, mengajak menjaga kebersihan kamar, dan aktif membantu sesama. "Firman memiliki jiwa kepemimpinan yang cukup kuat," ujar Fazrul.

Perkembangan akademik Firman juga pesat. Meski sempat tertinggal pelajaran hampir satu tahun, dalam enam bulan ia berhasil meraih peringkat tiga di kelas. Wali kelasnya, Qorina, melihat keunggulannya di bidang sains. "Kami merekomendasikannya untuk mengikuti Olimpiade IPA," kata Qorina. Anak yang dulu berjalan enam kilometer kini dipersiapkan untuk olimpiade.

Harapan Baru

Kisah Firman membuktikan bahwa anak-anak dari keluarga miskin tidak kekurangan kemampuan, melainkan kesempatan. Sekolah Rakyat hadir membuka akses pendidikan dan memutus rantai kemiskinan. Kini Firman bercita-cita menjadi guru. Ia ingin membantu anak-anak lain agar tak mengalami kesulitan yang sama. Enam kilometer yang dulu menjadi alasan putus sekolah, kini berubah menjadi simbol perjuangan meraih masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.