Media Kampung – Seorang guru di Minneapolis, Amerika Serikat, berhasil meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam membaca hingga 95 persen hanya dengan melarang penggunaan ponsel dan laptop di kelas. Langkah ini menjadi bukti bahwa tren Schools Are Bringing Back Pen and Paper, and Students Are Thriving semakin nyata dan efektif.

Maureen Mulvaney, guru AP Literature di Washburn High School, Minneapolis, memutuskan untuk melarang ponsel dan laptop di kelasnya pada tahun ajaran lalu. Siswa diwajibkan mengerjakan tugas dengan pena dan kertas, serta menggunakan buku fisik, bukan PDF di tablet.

Hasilnya, pada September hanya 46 persen siswa yang merasa percaya diri dengan kemampuan membaca mereka. Angka itu melonjak menjadi 95 persen pada Februari. Siswa yang awalnya kesulitan menulis setengah halaman dengan tangan kini mampu menghasilkan enam hingga tujuh halaman.

Hampir 80 persen siswa melaporkan bahwa berpikir dan mengatur ide lebih mudah dilakukan di atas kertas dibandingkan layar. Kebiasaan positif ini juga terbawa ke luar kelas, dengan siswa mengurangi ketergantungan pada Google dan AI, serta lebih sering mengobrol dengan teman sekelas.

Fenomena ini merupakan bagian dari tren global. Pemerintah Denmark pada Maret lalu melarang ponsel di sekolah dan menginvestasikan jutaan dolar untuk buku fisik. Swedia, Belanda, Finlandia, Australia, dan Kanada juga sedang dalam proses membersihkan sekolah dari teknologi dan kembali ke pena dan kertas.

Mulvaney membuktikan bahwa kerusakan akibat teknologi tidak permanen. Sekolah tidak perlu solusi rumit atau bantuan industri teknologi untuk memperbaiki masalah yang ditimbulkannya. Cukup dengan mengambil teknologi, memberikan buku fisik, dan menunggu, hasilnya akan terlihat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.