Media KampungHari Bumi 2025 diperingati di seluruh Indonesia pada 22 April, menjadi ajang untuk menanamkan nilai lingkungan dalam kurikulum sekolah.

Perayaan tidak hanya melibatkan penanaman pohon atau pengumpulan sampah, melainkan mengajak murid mencintai tanah air melalui praktik nyata.

Kurikulum tradisional kini diusulkan beralih dari sekadar teori alam menjadi pembelajaran bersama alam di luar kelas.

Contohnya, pelajaran matematika dapat dilakukan di kantin dengan mengukur luas dan volume sampah plastik yang dihasilkan setiap hari.

Di sisi lain, pelajaran Bahasa Indonesia dapat menginspirasi siswa menulis surat cinta untuk sungai yang tengah terkontaminasi.

Pendidikan karakter berbasis lingkungan dipandang sebagai fondasi penting bagi generasi muda demi kelestarian planet.

Langkah sederhana seperti mematikan lampu kelas, menonaktifkan AC saat keluar ruang, dan membawa botol tumbler sendiri menjadi bagian dari empati ekologis.

“Mematikan lampu kelas, mematikan AC saat keluar kelas dan membawa botol minum (tumbler) sendiri bukan sekedar efisiensi biaya sekolah,” tulis artikel sumber.

Anak‑anak kini lebih mengenal karakter anime daripada jenis pohon di sekitar rumah mereka, menandakan kebutuhan edukasi yang lebih mengakar.

Sekolah sebaiknya menjadi laboratorium hidup, dengan kebun sekolah menjadi kelas favorit bersaing dengan kantin.

Pengelolaan kompos yang menghasilkan uang tidak boleh dijadikan hanya pajangan akreditasi, melainkan praktik belajar yang nyata.

Jika siswa tidak pernah menyentuh tanah, mereka tidak akan merasakan kepedihan saat hutan gundul akibat penebangan.

Seperti yang disampaikan, bumi tidak memerlukan penyelamatan manusia, namun manusia sangat bergantung pada bumi untuk kelangsungan hidup.

Oleh karena itu, setiap ruang kelas harus diperlakukan sebagai persemaian benih kepedulian terhadap lingkungan.

Jika generasi ini tidak dididik mencintai tanah air, tidak ada pihak lain yang dapat menggantikan peran tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.