Media Kampung – Hardiknas 2026 digelar pada Sabtu di Taman Blambangan, Banyuwangi, dengan kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang memuji berbagai terobosan dan program kreatif pendidikan di kabupaten ujung timur Pulau Jawa.
Acara peringatan Hari Pendidikan Nasional tersebut berlangsung khidmat, menandai komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah paling timur Jawa.
Abdul Mu’ti menegaskan, “Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menunjukkan banyak terobosan dan program kreatif di bidang pendidikan,” sekaligus menyoroti fokus utama pada anak‑anak yang selama ini tidak memiliki kesempatan bersekolah.
Ia menambahkan bahwa layanan khusus bagi anak putus sekolah menjadi prioritas, guna menutup kesenjangan akses pendidikan yang selama ini menghambat perkembangan sumber daya manusia.
Data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banyuwangi mencatat peningkatan signifikan, yaitu mencapai 75,17 pada 2025 naik dari 74,3 pada 2024, menandakan perbaikan berkelanjutan dalam kualitas hidup dan pendidikan warga.
Peningkatan tersebut dipandang sebagai indikator positif atas efektivitas program inovatif yang dijalankan di tingkat kabupaten.
Sebelum upacara dimulai, Menteri Abdul Mu’ti berbincang dengan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa inovasi pendidikan di Banyuwangi layak menjadi contoh bagi daerah lain.
Ipuk menegaskan, “Pemerintah kabupaten memiliki sejumlah program inovatif untuk memastikan anak usia sekolah tetap memperoleh pendidikan,” sambil menyoroti Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah atau Garda Ampuh.
Garda Ampuh menargetkan penjangkauan anak‑anak yang putus sekolah, mengajak mereka kembali ke bangku belajar melalui pendampingan intensif dan penyediaan fasilitas belajar.
Program Siswa Asuh Sebaya juga menjadi bagian penting, di mana siswa berpenghasilan lebih tinggi membantu teman sebaya yang kurang mampu dengan memberikan sepeda, kacamata, serta perlengkapan sekolah lainnya.
Inisiatif ini memperkuat kolaborasi antar‑siswa, sekaligus mendorong pemerataan akses pendidikan lintas sekolah.
Selain fokus akademik, pemerintah Banyuwangi mengintegrasikan seni dan budaya dalam kurikulum, terbukti dari partisipasi pelajar dalam pertunjukan seni kolosal Kuntulan Ewon yang digelar bersamaan dengan Hardiknas.
Pertunjukan tersebut menegaskan komitmen daerah untuk mengembangkan potensi seni, budaya, dan kemampuan non‑akademik siswa secara komprehensif.
Kehadiran Menteri Abdul Mu’ti di lapangan memberikan motivasi tambahan bagi pejabat daerah, tenaga pendidik, dan pelajar untuk terus meningkatkan standar pendidikan di Banyuwangi.
Dengan dukungan kebijakan dan program kreatif yang terus berkembang, Banyuwangi berupaya menjadikan pendidikan inklusif, berkelanjutan, serta mampu menjawab tantangan masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan