Media Kampung – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember berhasil meluncurkan Refocus System, sebuah inovasi digital berbasis metakognisi untuk mengatasi krisis atensi belajar pada generasi muda.

Krisis atensi, yang dipicu oleh paparan berlebihan terhadap distraksi digital, semakin mempengaruhi kemampuan konsentrasi pelajar di era modern, sehingga menurunkan kualitas pembelajaran.

Tim inovator terdiri atas Vivian Muzayyadah, Rina Dwi Rahayu, dan Adin Ardila Susanti, ketiga mahasiswa yang menggabungkan pengetahuan fisika dengan teknologi edukasi untuk menciptakan solusi praktis.

Mereka meraih juara pertama dari lebih seratus peserta internasional pada International Scientific Paper Competition yang diselenggarakan oleh Bima International University MFH pada 6 April 2026.

Refocus System dirancang sebagai sistem intervensi digital yang menekankan proses metakognitif, memungkinkan pengguna mengidentifikasi, memantau, dan mengatur pola perhatian mereka secara mandiri.

Fitur pertama, Self‑awareness tracking, merekam tingkat kesadaran diri pengguna selama belajar melalui indikator waktu fokus, frekuensi pergantian aplikasi, dan tingkat kelelahan mental.

Fitur kedua, Adaptive reminders, memberikan pengingat yang disesuaikan dengan pola aktivitas individu, sehingga intervensi tidak mengganggu alur belajar namun tetap memotivasi kembali fokus.

Fitur ketiga, Metacognitive prompts, menyajikan pertanyaan reflektif dan saran strategi belajar yang menstimulasi pengguna untuk mengevaluasi efektivitas metode belajar mereka.

Fitur keempat, Focus session, menyediakan lingkungan belajar terkurasi dengan blok waktu terstruktur, musik latar yang menenangkan, serta penangguhan notifikasi eksternal secara otomatis.

Rina Dwi Rahayu menjelaskan, “Pendekatan metakognisi pada Refocus System bukan sekadar memblokir gangguan, melainkan membentuk kebiasaan berpikir kritis yang memperkuat kontrol diri dalam jangka panjang.”

Vivian Muzayyadah menambahkan, “Kami ingin setiap pelajar mampu mengidentifikasi titik lemah konsentrasi mereka dan mengaktifkan mekanisme regulasi diri tanpa bantuan terus‑menerus dari pihak luar.”

Tim mengakui tantangan terbesar terletak pada penyampaian ide kompleks dalam bahasa Inggris, terutama saat sesi tanya‑jawab dengan dewan juri yang berasal dari berbagai negara.

Kemenangan ini dianggap sebagai bukti bahwa riset berbasis masalah nyata dapat bersaing di kancah internasional, sekaligus menginspirasi mahasiswa lain untuk mengembangkan ide inovatif.

Ke depannya, Refocus System diproyeksikan menjadi alat pendukung pembelajaran digital yang dapat diintegrasikan ke platform e‑learning universitas serta aplikasi belajar mandiri.

Penerapan awal direncanakan pada semester genap 2026 di beberapa program studi UNEJ, dengan harapan meningkatkan rata-rata fokus belajar mahasiswa setidaknya sebesar 20 persen.

Saat ini, tim sedang menyiapkan versi beta untuk uji coba lapangan, sambil mengumpulkan umpan balik pengguna guna penyempurnaan antarmuka dan algoritma adaptif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.