Media Kampung – Ova Emilia, yang terpilih menjadi rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 27 Mei 2022, menjadi rektor perempuan kedua dalam sejarah UGM.
Lahir di Yogyakarta pada 19 Februari 1964, ia menamatkan pendidikan S1 kedokteran di UGM antara tahun 1982 hingga 1989, kemudian melanjutkan spesialisasi obstetri‑ginekologi di fakultas yang sama.
Setelah menyelesaikan program magister Pendidikan Kedokteran di University of Dundee, Skotlandia, Ova kembali ke Indonesia untuk menempuh pendidikan dokter subspesialis dan melanjutkan studi doktoral di University of New South Wales pada 2009.
Sebagai Guru Besar Ilmu Pendidikan Kedokteran, ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK‑KMK) UGM selama dua periode, yakni 2016‑2022.
Di bawah kepemimpinannya, FK‑KMK mengembangkan kurikulum pelayanan kontrasepsi berbasis bukti yang diterapkan secara nasional pada rentang 2012‑2020.
Ova Emilia juga memegang posisi Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Indonesia sejak 2018, memperkuat jaringan akademik antaruniversitas di tanah air.
Pada tahun 2026, UGM menjadi tuan rumah 3rd Annual Conference of China–Indonesia TVET Industry Education Alliance (CITIEA), sebuah inisiatif kolaboratif antara pendidikan vokasi Indonesia dan Tiongkok.
Konferensi tersebut diselenggarakan di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM, dengan dukungan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Menteri Koordinator Pratikno menekankan bahwa sinergi ini bertujuan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri global, termasuk teknologi digital, kecerdasan buatan, dan adaptasi perubahan iklim.
Rektor Ova Emilia menyatakan bahwa ekosistem pendidikan‑industri‑pemerintah di China menjadi contoh kuat bagi Indonesia dalam mengembangkan ekosistem serupa.
Ia menambahkan bahwa forum CITIEA tidak hanya membahas kerja sama, melainkan juga penyelarasan kurikulum dengan transformasi teknologi dan tuntutan keberlanjutan.
Melalui CITIEA 2026, UGM berupaya menghasilkan lulusan yang siap kerja dan mampu menciptakan lapangan kerja baru, sejalan dengan momentum bonus demografi Indonesia.
Prestasi akademik Ova Emilia juga diakui secara internasional, antara lain dengan penghargaan First Prize for Young Gynecologist Award pada tahun 1998.
Selama masa kepemimpinannya, UGM menempati peringkat pertama dalam QS Sustainability Rankings 2026, mengukuhkan komitmen universitas terhadap pendidikan berkelanjutan.
Kepemimpinan Ova Emilia di bidang penelitian terapan turut memperkuat posisi UGM sebagai pusat inovasi, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat dan teknologi medis.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk mengatasi tantangan global, seperti krisis pangan dan kesehatan, melalui pemanfaatan teknologi pertanian dan perikanan.
Saat ini, Ova Emilia terus memimpin program-program internasional, memperluas jaringan kerjasama dengan institusi pendidikan tinggi di Australia, Eropa, dan Asia.
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa UGM telah menyiapkan lebih dari 2.000 mahasiswa vokasi untuk mengikuti program pertukaran CITIEA, menandai langkah konkret menuju internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan