Media Kampung – Program MBG diperketat dengan penutupan sementara 1.780 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk meningkatkan kualitas layanan gizi pada anak-anak di seluruh Indonesia.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan keputusan ini pada acara peresmian SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi, Selasa (21/4).
Penghentian sementara tidak melibatkan pembentukan tim khusus baru, melainkan memanfaatkan struktur internal BGN yang telah berjalan.
Langkah ini diambil setelah temuan audit internal mengindikasikan adanya variasi standar layanan di beberapa SPPG.
Audit tersebut mencatat bahwa sebagian SPPG belum memenuhi kriteria mutu gizi yang ditetapkan, terutama dalam penyediaan makanan bergizi gratis.
Secara total, 1.780 SPPG yang beroperasi di berbagai provinsi harus menghentikan aktivitas penyediaan makanan sampai perbaikan standar selesai.
Penutupan bersifat sementara dan akan dicabut setelah proses verifikasi dan peningkatan kualitas selesai.
BGN menegaskan bahwa setiap SPPG akan melalui proses evaluasi ulang, meliputi audit kebersihan, prosedur distribusi, dan pemilihan bahan makanan.
Unit-unit yang berhasil memenuhi kriteria baru akan mendapatkan kembali izin operasionalnya.
Pemerintah menargetkan agar perbaikan kualitas selesai dalam tiga bulan ke depan, dengan harapan layanan kembali optimal sebelum musim liburan sekolah.
Penghentian ini tidak memengaruhi program bantuan gizi lain yang dikelola oleh Kementerian Sosial atau Dinas Kesehatan daerah.
Untuk mengantisipasi kebutuhan gizi anak selama periode penutupan, pemerintah memperkuat jaringan pos pelayanan gizi alternatif di puskesmas dan balai desa.
Selain itu, BGN akan menyediakan panduan operasional yang lebih ketat, termasuk standar bahan baku, prosedur penyimpanan, dan pelatihan staf.
Pelatihan ulang akan dilaksanakan secara daring dan tatap muka bagi petugas SPPG yang terpilih.
Dalam rapat koordinasi, Dadan Hindayana menegaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan MBG.
Ia menambahkan, “Kualitas gizi adalah hak dasar setiap anak, sehingga kami tidak akan kompromi pada standar yang telah ditetapkan.”
Beberapa LSM yang terlibat dalam program MBG menyambut langkah ini sebagai upaya meningkatkan kepercayaan publik.
Mereka menekankan perlunya monitoring berkelanjutan dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan.
Di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan setempat diminta menyusun rencana aksi untuk mempercepat proses perbaikan.
Beberapa provinsi yang memiliki konsentrasi SPPG tinggi, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, menjadi prioritas utama.
Selama masa transisi, pemerintah mengalokasikan tambahan anggaran untuk mendukung logistik dan pelatihan.
Anggaran tambahan tersebut diperkirakan mencapai Rp 150 miliar, yang akan disalurkan melalui DAK (Dana Alokasi Khusus) dan APBN.
Pendanaan ini juga mencakup pembelian perangkat pengukur kualitas makanan dan sistem informasi berbasis digital.
Sistem digital akan memudahkan pelaporan real‑time, sehingga BGN dapat memantau perkembangan tiap SPPG secara akurat.
Dengan integrasi data, BGN berharap dapat mengidentifikasi potensi masalah sejak dini dan melakukan intervensi tepat waktu.
Para ahli gizi menilai langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi angka stunting nasional.
Data terakhir Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa prevalensi stunting masih berada di atas target 2025.
Oleh karena itu, perbaikan kualitas MBG menjadi salah satu pilar strategis dalam upaya menurunkan angka stunting.
Penghentian sementara SPPG juga memberi kesempatan bagi pemerintah untuk meninjau kembali mekanisme distribusi bantuan.
Beberapa rekomendasi mencakup penggunaan voucher makanan digital dan kolaborasi dengan sektor swasta.
Di akhir acara, Dadan Hindayana mengajak seluruh stakeholder untuk bersama‑sama mewujudkan MBG yang lebih bersih, aman, dan berkualitas.
Ia menutup dengan harapan bahwa setelah proses perbaikan selesai, layanan MBG akan kembali memberikan dampak positif bagi kesejahteraan anak Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan