Media Kampung – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meresmikan Digital Election Simulation Lab (DESLab) sebagai langkah strategis untuk memperkuat edukasi masyarakat terkait digitalisasi pemilu di Indonesia. Peresmian fasilitas ini berlangsung di Command Center Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri, Jakarta, pada Kamis, 7 Mei 2026, dan dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus.

DESLab dirancang sebagai laboratorium simulasi yang memungkinkan publik, aparatur pemerintah, akademisi, mahasiswa, hingga organisasi masyarakat mempelajari seluruh proses pemilihan digital secara langsung. Fasilitas ini menampilkan tahapan penting seperti verifikasi pemilih, penggunaan hak suara, penerapan prinsip satu orang satu suara, penghitungan, hingga mekanisme audit yang transparan dan dapat diuji. Keberadaan DESLab diharapkan meningkatkan literasi masyarakat tentang teknologi pemilu serta mendorong kepercayaan publik terhadap penerapan digitalisasi dalam demokrasi.

Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa DESLab tidak boleh hanya menjadi tempat memamerkan perangkat teknologi e-voting. Ia menekankan, “Artinya, DESLab BSKDN tidak boleh hanya menjadi ruang display perangkat E-Voting, namun DESLab BSKDN harus menjadi ruang produksi pengetahuan dan rekomendasi kebijakan.” Menurutnya, laboratorium ini wajib berperan sebagai pusat pengembangan pengetahuan, pembelajaran kebijakan, serta ruang pengujian gagasan terkait tata kelola pemilu digital di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Wiyagus juga meminta BSKDN agar mengelola DESLab secara tertib dan transparan sehingga hasil simulasi bisa menjadi pembelajaran yang kredibel. Ia berharap fasilitas ini tak hanya menonjolkan aspek teknologi, melainkan turut membangun pemahaman, menguji inovasi, dan menyiapkan masa depan demokrasi Indonesia agar semakin adaptif terhadap perkembangan digital. “Kemudian menjadi ruang pembelajaran kebijakan yang modern, terkemuka dan bertanggung jawab, ruang yang tidak hanya menampilkan teknologi sekali lagi, tetapi juga membangun pemahaman, menguji gagasan, dan terutama menyiapkan masa depan demokrasi Indonesia,” ujar Wiyagus.

Pengalaman Indonesia dalam pemungutan suara elektronik menjadi modal berharga dalam pengembangan DESLab. Berdasarkan data PT Inti Konten Indonesia, sistem e-voting telah digunakan di 1.910 desa di 16 provinsi sejak 2013 tanpa kendala berarti. Hal ini menunjukkan digitalisasi pemilu bukan hal baru, meski penerapannya secara luas masih terus dikaji dan disempurnakan. Wiyagus menyoroti pentingnya belajar dari pengalaman internasional, seperti Brasil dalam percepatan rekapitulasi suara, Estonia dengan sistem internet voting, serta Amerika Serikat yang menerapkan audit surat suara. Sebaliknya, negara seperti Jerman, Belanda, Irlandia, dan Norwegia memberikan pelajaran penting tentang tantangan keamanan sistem dan kepercayaan publik dalam pemilu digital.

Kepala BSKDN, Yusharto Huntoyungo, menyampaikan bahwa pihaknya akan memperluas kolaborasi dengan berbagai lembaga untuk memperkenalkan digitalisasi pemilu di berbagai tingkatan. Ia menegaskan bahwa DESLab menjadi bagian dari upaya memastikan digitalisasi pemilu tetap menjunjung tinggi prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. “Ini menjadi bagian dari upaya kita untuk bisa membuktikan bahwa digitalisasi dalam pemilihan itu tetap bisa mendukung prinsip luber dan jurdil,” jelas Yusharto.

Wiyagus menilai, kehadiran DESLab menjadi wujud kesiapan Kemendagri dalam menghadapi tantangan tata kelola pemerintahan modern yang makin dipengaruhi isu digitalisasi, kecerdasan buatan, dan keamanan siber. Ia berharap laboratorium ini dapat memperkuat objektivitas pengkajian risiko kebijakan, serta menjadi sarana pembelajaran dari tahap perencanaan hingga implementasi pemilu digital di masa depan. “DESLab BSKDN adalah pesan bahwa Kemendagri siap beradaptasi dan siap menyiapkan kebijakan pemerintahan dalam negeri yang relevan dengan perkembangan zaman,” kata Wiyagus menutup pernyataannya.

Hingga saat ini, DESLab menjadi pusat pembelajaran dan simulasi pemilu digital di lingkungan Kemendagri sekaligus laboratorium edukasi bagi masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat memperluas pemahaman publik dan meningkatkan kesiapan Indonesia dalam mengadopsi sistem pemilihan yang lebih transparan, efisien, dan akuntabel di era digital.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.