Media Kampung – Pemerintah Indonesia mempercepat substitusi LPG 3 kg dengan tabung CNG 3 kg sebagai upaya menurunkan subsidi energi hingga 30 % dan menghemat biaya rumah tangga.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, bahwa ketergantungan LPG impor mencapai 75‑80 % dan menjadi beban devisa.

Menurut Bahlil, konsumsi LPG nasional untuk rumah tangga mencapai 7‑8 juta ton per tahun, sementara sektor industri seperti petrokimia menambah kebutuhan 2‑3 juta ton.

Untuk menggantikan tabung LPG 3 kg, pemerintah tengah melakukan uji coba teknis tabung CNG bertekanan 200‑250 bar dan menargetkan hasil dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Bahlil menegaskan bahwa harga CNG diperkirakan 30 % lebih murah dibanding LPG, sehingga subsidi dapat dipotong sekitar 30 % jika konversi dinyatakan layak.

Keunggulan CNG terletak pada ketersediaan gas domestik, termasuk temuan cadangan baru sekitar 3 000 MMBtu di Kalimantan Timur yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Skema pembiayaan akan memakai model business‑to‑business (B2B), di mana pemerintah menyediakan pasokan gas C1 dan C2, sementara pelaku usaha mengelola distribusi dan penjualan ke konsumen.

Meski potensi penghematan besar, tantangan utama tetap pada pembangunan jaringan distribusi CNG yang merata dan edukasi masyarakat tentang penggunaan tabung bertekanan tinggi.

Jika uji coba berhasil, konversi bertahap dari LPG ke CNG diperkirakan akan dimulai dalam tiga bulan mendatang, menandai langkah strategis menuju kemandirian energi nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.