Media Kampung – PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (Abadi Nusantara Hijau) mengumumkan strategi divestasi unit tambang batu bara untuk memperkuat portofolio energi hijau.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan regulasi dan permintaan pasar akan solusi energi berkelanjutan.

Manajemen perusahaan menyatakan bahwa proses divestasi telah memasuki tahap lanjutan dengan beberapa calon pembeli yang menunjukkan minat serius.

Negosiasi berjalan secara transparan dan sesuai dengan ketentuan peraturan pasar modal Indonesia.

Divestasi diharapkan dapat meningkatkan likuiditas serta mengurangi eksposur risiko lingkungan yang terkait dengan kegiatan pertambangan.

Hasil penjualan akan dialokasikan untuk investasi pada proyek energi terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya dan gas bersih.

Direktur Utama Abadi Nusantara Hijau, Rudi Hartono, menegaskan bahwa transformasi ini selaras dengan komitmen ESG perusahaan.

“Kami melihat energi hijau sebagai peluang utama untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham,” ujar Rudi Hartono dalam konferensi pers pada 21 April 2026.

Strategi ini juga mendukung agenda nasional yang menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 23% pada tahun 2025.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan insentif fiskal bagi perusahaan yang beralih ke energi bersih, memperkuat motivasi korporasi.

Abadi Nusantara Hijau menargetkan penyelesaian divestasi selengkapnya pada kuartal ketiga 2026.

Setelah penjualan selesai, perusahaan berencana mengumumkan rencana investasi rinci dalam sektor energi hijau.

Analisis pasar menunjukkan bahwa saham perusahaan berpotensi naik seiring dengan peningkatan eksposur pada aset ramah lingkungan.

Investor institusional telah mengekspresikan dukungan mereka terhadap kebijakan divestasi ini.

Data terbaru dari Bursa Efek Indonesia mencatat bahwa volume perdagangan saham Abadi Nusantara Hijau meningkat 12% pada minggu pertama April 2026.

Perusahaan juga sedang meninjau peluang kerjasama dengan perusahaan teknologi energi terbarukan asal luar negeri.

Kerjasama tersebut mencakup transfer teknologi panel surya berefisiensi tinggi dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai.

Tim manajemen menilai bahwa diversifikasi ke energi hijau dapat mengurangi volatilitas pendapatan yang biasanya terkait dengan harga batu bara.

Selain itu, perusahaan berkomitmen untuk mengurangi intensitas karbon operasional sebesar 30% dalam lima tahun ke depan.

Pengurangan emisi ini akan dicapai melalui modernisasi fasilitas, penggunaan bahan bakar bersih, dan optimalisasi proses produksi.

Pengalaman Abadi Nusantara Hijau di sektor energi konvensional memberikan fondasi kuat untuk mengelola proyek energi terbarukan.

Perusahaan telah memiliki jaringan distribusi yang luas, yang dapat dimanfaatkan untuk penyaluran listrik hijau ke konsumen industri.

Sejumlah analis memproyeksikan bahwa pendapatan dari bisnis energi hijau dapat menyumbang hingga 20% dari total pendapatan pada akhir 2027.

Kebijakan pemerintah mengenai carbon pricing diperkirakan akan semakin memperkuat keuntungan relatif energi bersih.

Abadi Nusantara Hijau juga menyiapkan tim khusus untuk mengelola portofolio ESG dan pelaporan keberlanjutan.

Tim ini akan menyusun laporan tahunan yang mematuhi standar Global Reporting Initiative (GRI).

Dalam konteks regional, perusahaan berencana mengembangkan proyek energi surya di pulau Jawa dan Sumatra.

Lokasi strategis ini dipilih mengingat tingkat radiasi matahari yang tinggi dan akses infrastruktur yang baik.

Proyek pertama diperkirakan akan memiliki kapasitas terpasang sebesar 150 megawatt.

Implementasi proyek tersebut diperkirakan selesai pada akhir 2027.

Secara keseluruhan, langkah divestasi dan investasi hijau menandai perubahan signifikan dalam strategi korporasi Abadi Nusantara Hijau.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa proses penjualan aset batu bara berada pada fase penandatanganan kesepakatan, sementara tim proyek energi hijau telah memulai studi kelayakan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.