Media Kampung – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif mobil 25 persen terhadap kendaraan produksi Uni Eropa, menimbulkan kekhawatiran besar bagi produsen utama seperti BMW dan Mercedes.

Pengumuman tersebut disampaikan pada pekan ini dengan alasan Uni Eropa belum memenuhi kesepakatan perdagangan yang disepakati pada Agustus lalu, sehingga Washington memutuskan untuk memberikan tekanan melalui bea masuk.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut kebijakan itu sebagai “pukulan bagi seluruh Eropa” dalam wawancara dengan stasiun ARD, sekaligus menegaskan bahwa ia tidak ingin situasi dipelintir menjadi konflik yang lebih luas.

Merz menambahkan, “Saya kira ia mulai kehilangan kesabaran, karena kami telah mencapai kesepakatan bea cukai dengan Amerika pada Agustus tahun lalu,” menyoroti kegagalan Uni Eropa menandatangani perjanjian tersebut.

Jika tarif berlaku, industri otomotif Jerman diperkirakan akan merasakan dampak signifikan karena BMW dan Mercedes menyumbang sebagian besar ekspor mobil ke Amerika, yang nilainya mencapai miliaran dolar tiap tahunnya.

Ketegangan perdagangan ini melanjutkan serangkaian langkah balasan antara Washington dan Brussels, termasuk tarif sebelumnya pada baja dan aluminium yang sempat meredakan sebagian melalui negosiasi.

Merz mengungkapkan rencananya akan membahas isu ini secara langsung dengan Trump pada pertemuan G7 di Prancis bulan Juni serta KTT NATO di Turki bulan Juli, berharap dialog dapat meredakan ketegangan.

Ia menekankan pentingnya penyelesaian cepat, menyatakan, “Pihak Amerika sudah siap, tetapi pihak Eropa belum, dan saya berharap kita dapat mencapai kesepakatan secepatnya,” sebagai seruan bagi negara anggota UE.

Sampai kini belum ada konfirmasi resmi tentang tanggal mulai berlakunya tarif, namun para analis memperingatkan bahwa ketidakpastian dapat menunda investasi dan mengurangi lapangan kerja di sektor otomotif Eropa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.