Media Kampung – FIFA diprediksi meraup pendapatan sekitar USD 2 miliar (sekitar Rp31 triliun) dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Meski secara finansial sukses, gelaran yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini menuai kritik tajam dari penggemar karena obsesi berlebihan terhadap keuntungan.

Turnamen edisi perdana dengan format 48 tim ini memecahkan rekor jumlah penonton. Lebih dari 15 juta orang memadati stadion dan area festival selama 39 hari penyelenggaraan, menjadikannya Piala Dunia terbesar dalam sejarah. Kemenangan Spanyol atas Argentina 1-0 di final menjadi puncak ajang yang disebut-sebut sebagai ‘paling sukses’ oleh FIFA.

Baca juga:

Kritik atas Komersialisasi Berlebihan

Namun, di balik kesuksesan finansial, banyak penggemar yang kecewa dengan berbagai kebijakan FIFA yang dianggap terlalu mengutamakan cuan. Salah satu yang paling dikritik adalah penerapan dynamic pricing untuk tiket pertandingan. Sistem ini secara otomatis menyesuaikan harga tiket berdasarkan permintaan dan ketersediaan secara real-time, mengakibatkan harga melambung tinggi.

“Ada perasaan campur aduk terhadap FIFA. Sejujurnya, penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini bagus, tapi dengan penetapan harga dinamis dan banyak masalah tiket serta visa sangat menyulitkan banyak orang untuk bisa menonton pertandingan,” ujar Asad Hussain, seorang penggemar dari Nashville, kepada Bloomberg.

Selain tiket, FIFA juga menuai kontroversi melalui penjualan potongan rumput lapangan final seharga USD 3.000 yang diawetkan dalam resin, lengkap dengan trofi mini dari kaca kristal. Tak hanya itu, hydration break yang diklaim demi kesejahteraan pemain justru dinilai sebagai celah untuk menambah slot iklan.

Baca juga:

Hydration Break: Antara Kesejahteraan Pemain dan Iklan

Setiap pertandingan Piala Dunia 2026 menyertakan dua kali hydration break di setiap babak. FIFA beralasan hal ini untuk melindungi pemain dari panasnya musim panas Amerika Utara. Namun, para pengamat mencatat bahwa jeda tersebut memberikan tambahan 8 slot iklan 30 detik per pertandingan bagi penyiar resmi seperti Fox di Amerika Serikat.

Dengan total 104 pertandingan, tambahan slot iklan mencapai 832 slot baru. Jika harga iklan 30 detik berkisar antara USD 250.000 hingga USD 750.000 tergantung tahapan turnamen, pendapatan iklan tambahan bisa mencapai hampir USD 500 juta. Angka ini berpotensi menutupi lebih dari setengah biaya hak siar yang dilaporkan dibayar Fox.

“Ini menunjukkan bahwa FIFA dan mitra siaran memanfaatkan setiap momen untuk meraup keuntungan, bahkan dengan mengorbankan kenyamanan pertandingan,” ujar seorang analis media olahraga yang enggan disebutkan namanya.

Baca juga:

Dampak pada Masa Depan Sepak Bola Global

Meski menuai kritik, keberhasilan finansial Piala Dunia 2026 diperkirakan akan mendorong FIFA untuk semakin agresif dalam mengkomersialisasikan turnamen-turnamen mendatang. Format 48 tim yang menghasilkan 104 pertandingan dalam 39 hari juga dinilai membebani pemain, namun tetap dipertahankan karena menghasilkan lebih banyak konten dan pendapatan.

Bagi penggemar, kekhawatiran terbesar adalah bahwa sepak bola semakin jauh dari akar kerakyatannya. “Piala Dunia seharusnya untuk semua orang, bukan hanya yang mampu membayar mahal,” kelakar seorang warganet di media sosial. Kritik ini menjadi pengingat bagi FIFA bahwa keseimbangan antara keuntungan dan aksesibilitas perlu dijaga agar sepak bola tetap menjadi milik semua kalangan.

Piala Dunia 2026 telah usai, namun perdebatan mengenai komersialisasi sepak bola global masih akan terus bergulir.