Media Kampung – Aturan baru jeda minum atau hydration break di Piala Dunia 2026 kembali menjadi perdebatan. Kali ini, kritik tajam datang dari pelatih timnas Argentina, Lionel Scaloni. Ia menilai kebijakan tersebut justru menguntungkan tim yang lebih lemah karena memberikan waktu tambahan untuk memperbaiki strategi.
Kritik Scaloni terhadap Jeda Minum
Scaloni mengungkapkan bahwa ritme pertandingan menjadi sangat terpecah akibat penghentian permainan yang terus-menerus dilakukan wasit. Menurutnya, hal ini membuat intensitas laga menurun dan memberikan keuntungan bagi lawan.
“Secara historis, babak penyisihan grup selalu sulit, apalagi dengan format 48 tim. Sekarang dengan kondisi panas dan jeda minum, permainan dihentikan terus-menerus. Mungkin itu memberikan bantuan kepada tim yang lebih lemah karena mereka memiliki waktu untuk memperbaiki segalanya,” ujar Scaloni dikutip dari ESPN.
Konsep Empat Babak yang Memecah Fokus
Jeda minum dilakukan dua kali di babak pertama dan dua kali di babak kedua, sehingga 90 menit pertandingan terpecah menjadi empat kuarter. Scaloni mengakui bahwa hal ini membuatnya hanya memiliki waktu tiga setengah menit untuk berbicara dengan pemain di antara jeda tersebut.
“Konsep empat periode itu nyata. Antara waktu pemain tiba dan pergi, kami hanya memiliki waktu tiga setengah menit di babak pertama untuk berbicara dengan mereka,” tambahnya.
Klarifikasi Pernyataan
Scaloni kemudian mengklarifikasi pernyataannya soal keuntungan bagi tim lemah. Ia menegaskan bahwa jeda minum juga membantu tim penyerang untuk melakukan koreksi. “Mungkin saya menyesatkan saat menyebutkan itu menguntungkan tim yang lebih lemah, itu juga membantu sisi penyerang melakukan koreksi,” imbuhnya.
Meski demikian, Scaloni tetap optimis bahwa regulasi ini akan berjalan lebih baik seiring waktu. “Pertandingan berlangsung dengan cara berbeda, bahkan di dalam babak pertama itu saja. Saya yakin ini akan membaik,” pungkasnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan