Media Kampung – Pele, legenda sepak bola Brasil yang namanya abadi sepanjang masa, kembali menjadi sorotan setelah pemain Brasil lainnya, Vinícius Júnior, nyaris menyamai rekor hat trick di Piala Dunia. Pada 24 Juni 2026, Vinícius mencetak dua gol ke gawang Skotlandia di Hard Rock Stadium, Miami, dalam kemenangan 3-0 Brasil di babak penyisihan Grup C. Gol tersebut membuatnya mendekati pencapaian langka yang terakhir kali dilakukan Pele pada Piala Dunia 1958, saat ia mencetak hat trick melawan Prancis di semifinal.
Vinícius, yang bermain untuk Real Madrid, membuka skor pada menit ketujuh setelah umpan dari Rayan hasil intersep di kotak penalti Skotlandia. Gol keduanya tercipta pada menit ketiga waktu tambahan babak pertama, memanfaatkan umpan silang dari sisi kiri. Pelatih Brasil Carlo Ancelotti memuji kebugaran dan permainan Vinícius, namun menyarankan ia bisa beristirahat lebih banyak. Meski gagal mencetak gol ketiga di babak kedua, penampilan Vinícius mengingatkan pada kehebatan Pele.
Pele, yang bernama lengkap Edson Arantes do Nascimento, adalah salah satu pemain sepak bola terbesar sepanjang masa. Ia lahir di Três Corações, Brasil, pada 23 Oktober 1940, dan meninggal pada 29 Desember 2022. Sepanjang kariernya, Pele mencetak lebih dari 1.000 gol resmi dan memenangkan tiga Piala Dunia (1958, 1962, 1970). Rekor hat trick di Piala Dunia 1958 menjadikannya pemain termuda yang mencapai prestasi tersebut pada usia 17 tahun.
Warisan Pele tidak hanya terbatas pada statistik. Ia menjadi simbol sepak bola Brasil dan inspirasi bagi generasi pemain seperti Vinícius Júnior. Museum Irving Archives and Museum di Texas, misalnya, mengadakan pemutaran film dokumenter “Pelé: Birth of a Legend” pada 27 Juni 2026, sebagai bagian dari perayaan musim panas sepak bola. Film ini mengisahkan perjalanan Pele dari masa kecilnya yang sederhana hingga menjadi atlet paling terkenal di dunia, menekankan nilai ketekunan, semangat, dan determinasi.
Selain itu, nama Pele juga kerap disebut dalam konteks rekor assist di Piala Dunia. Saat ini rekor assist terbanyak dalam satu turnamen adalah enam, yang dipegang oleh Pele. Pemain Portugal Bruno Fernandes, yang baru mengoleksi satu assist pada Piala Dunia 2026, disebut-sebut berpotensi menyamai rekor tersebut. Meski masih jauh, pencapaian Fernandes menunjukkan standar tinggi yang ditetapkan oleh Pele.
Di luar lapangan, nama “Pele” juga muncul dalam konteks hiburan dan acara. Seorang pesulap dan mentalis bernama Josh Pele, misalnya, menghadirkan pertunjukan interaktif di acara perusahaan di berbagai negara. Meski tidak terkait dengan legenda sepak bola, kemiripan nama ini menunjukkan betapa kuatnya jejak Pele dalam budaya populer.
Pele juga menjadi tolok ukur bagi pemain muda seperti Vaibhav Sooryavanshi, pemain kriket India berusia 15 tahun yang disebut sebagai calon legenda olahraga. Dalam pemberitaan, Sooryavanshi disamakan dengan Sachin Tendulkar, namun perbandingan dengan Pele juga muncul karena prestasinya yang luar biasa di usia muda.
Dengan demikian, Pele tetap relevan tidak hanya sebagai pemain legendaris, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi atlet lintas generasi dan cabang olahraga. Rekor dan semangatnya terus dikenang dan dirayakan, menjadikannya ikon abadi dalam dunia olahraga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan