Media KampungPep Guardiola mengakhiri masa baktinya bersama Manchester City dengan penuh emosi saat laga perpisahan berakhir dengan kekalahan 1-2 dari Aston Villa di pekan terakhir Premier League. Dalam momen yang mengharukan di Stadion Etihad, Guardiola tak kuasa menahan air mata, menandai akhir perjalanan panjangnya bersama The Citizens.

Manchester City sebenarnya sempat unggul lebih dulu melalui gol Antoine Semenyo pada babak pertama, namun Aston Villa yang diasuh Unai Emery berhasil membalikkan keadaan lewat dua gol dari Ollie Watkins di babak kedua. Kekalahan ini sekaligus menjadi penutup perjalanan Guardiola bersama klub yang telah diasuhnya selama satu dekade.

Suasana di Etihad Stadium berubah menjadi sangat penuh haru ketika Guardiola menangis di tengah lapangan setelah peluit akhir dibunyikan. Para pemain, staf, dan pendukung memberikan penghormatan terakhir atas dedikasi sang pelatih yang telah membawa klub meraih banyak prestasi gemilang. Situasi semakin emosional karena laga tersebut juga menjadi pertandingan terakhir bagi dua pemain senior City, Bernardo Silva dan John Stones.

Guardiola mengaku tidak mudah untuk menangis, namun melihat Bernardo Silva yang juga larut dalam emosi membuatnya ikut terbawa perasaan. “Saya bukan orang yang gampang menangis, tetapi ketika melihat Bernardo menangis, saya ikut terbawa suasana. Momen itu terasa sangat spesial dan emosinya begitu besar,” ujarnya.

Pelatih asal Spanyol tersebut mengenang masa-masa selama 10 tahun di Manchester sebagai periode paling berkesan dalam kariernya. Meski sebelumnya pernah melatih Barcelona dan Bayern Munchen, Guardiola menyatakan bahwa masa jabatannya di City memiliki tempat istimewa dalam hidupnya.

Setelah berhasil membawa Manchester City mendominasi sepak bola Inggris dan Eropa dengan meraih enam gelar Premier League, satu Liga Champions, serta beberapa trofi lainnya, Guardiola memutuskan mundur karena merasa sudah kehabisan energi. “Saya sangat lelah, benar-benar sangat lelah. Saya merasa sudah memberikan semuanya untuk klub ini,” katanya kepada media kampung usai pertandingan.

Guardiola juga menyampaikan bahwa ia akan mengambil jeda panjang dari dunia sepak bola untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya setelah menghadapi tekanan berat selama bertahun-tahun. Ia menilai keputusan mundur adalah langkah terbaik demi kebaikan semua pihak, termasuk klub yang kini membutuhkan energi baru untuk melangkah ke era berikutnya.

Selama memimpin The Citizens sejak 2016, Guardiola telah menjalani 593 pertandingan dengan catatan 423 kemenangan. Di bawah asuhannya, klub yang dulu sering disebut ‘Sang Tetangga Berisik’ oleh rival sekota, Manchester United, berhasil mengumpulkan total 20 trofi bergengsi.

Bagi Guardiola, keberhasilan terbesar bukan hanya berupa gelar yang diraih, melainkan hubungan yang terjalin dengan pemain, staf, dan para pendukung sejak awal kedatangannya. “Yang membuat saya bahagia bukan hanya piala di lemari, tetapi kenangan bersama para pemain, staf, dan para pendukung sejak hari pertama saya datang,” ujarnya.

Guardiola mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada manajemen klub yang mendukung keputusannya mundur dan memberinya ruang untuk beristirahat. Meski demikian, reputasi dan prestasi yang dimiliki membuat banyak pihak yakin ia tidak akan lama jauh dari dunia kepelatihan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.