Media Kampung – Los Angeles Lakers kembali harus menelan kekalahan dari Oklahoma City Thunder dengan skor telak 125-107 dalam laga semifinal Wilayah Barat NBA, Kamis malam waktu setempat. Hasil ini membuat Thunder unggul 2-0 dalam seri best-of-seven, sekaligus mencatat sejarah sebagai tim pertama yang mengalahkan Lakers dengan selisih minimal 15 poin dalam lima pertemuan di satu musim sejak era NBA merger tahun 1976, menurut data ESPN Insights yang dikutip mediakampung.com.
Pertandingan di markas Thunder sempat memperlihatkan perlawanan sengit dari Lakers. Tim asuhan JJ Redick bahkan sempat memimpin tipis 58-57 saat jeda turun minum. Namun, perlawanan itu runtuh di babak kedua, terutama pada kuarter ketiga ketika Thunder melaju dengan keunggulan 36-22. Tanpa kehadiran bintang utama mereka, Shai Gilgeous-Alexander, yang terkena foul trouble di awal kuarter ketiga, Thunder tetap mampu mendominasi berkat penampilan solid para pemain pelapis.
Pelatih Thunder, Mark Daigneault, memuji fokus timnya yang tetap terjaga meskipun harus bermain tanpa Gilgeous-Alexander dalam periode penting. “Saya selalu menjaga komunikasi dengan wasit hanya di antara kami. Saya pikir tim kami melakukan pekerjaan luar biasa tetap fokus pada setiap penguasaan bola dan tidak terpengaruh hal lain,” ujar Daigneault dalam konferensi pers usai laga, dikutip dari mediakampung.com.
Lakers sejatinya berhasil menahan Gilgeous-Alexander di bawah rata-rata musimnya, hanya mencetak 22 poin di Game 2 setelah sebelumnya 18 poin di Game 1. Namun, upaya pertahanan ekstra pada sang MVP justru membuka ruang bagi pemain Thunder lainnya. Ajay Mitchell, yang mengisi peran Jalen Williams yang cedera, tampil menonjol dengan mencetak 18 poin di Game 1 dan meningkat menjadi 20 poin di Game 2. Jared McCain, rekrutan baru dari Philadelphia 76ers, juga konsisten menyumbang dua digit poin dari bangku cadangan di kedua laga.
Guard Lakers, Austin Reaves, menjadi motor serangan dengan 31 poin di Game 2, jauh melampaui catatannya di laga pertama. Namun, kontribusi dari pemain lain tak cukup untuk mengimbangi kedalaman skuad Thunder yang bench-nya unggul telak 48-20 atas Lakers. Reaves juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap kepemimpinan wasit, terutama saat terjadi insiden adu argumen dengan wasit John Goble di kuarter keempat. “Ketika kami berebut posisi saat jump ball, dia tiba-tiba berteriak ke wajah saya. Saya merasa tidak dihormati. Jika saya yang melakukan hal serupa pada wasit, pasti saya langsung dapat technical foul,” ujar Reaves, sebagaimana dilaporkan oleh mediakampung.com.
Pelatih Lakers, JJ Redick, juga tak menutupi kekesalannya terhadap sejumlah keputusan wasit yang dianggap berat sebelah. Menurut Redick, Thunder kerap melakukan pelanggaran yang luput dari pengamatan wasit. “Saya sempat berkata sarkastik, mereka tim paling disruptif tanpa melakukan foul. Padahal beberapa pemain mereka jelas melakukan pelanggaran di hampir setiap possession,” ungkap Redick kepada awak media usai pertandingan.
Dari data pertandingan, Thunder mendapatkan 26 kesempatan free throw berbanding 21 milik Lakers, serta hanya dijatuhi 21 pelanggaran, lima lebih sedikit dari Lakers. Meski begitu, Thunder juga sempat mendapat keputusan kontroversial, seperti dua offensive foul pada Gilgeous-Alexander di kuarter ketiga yang membuatnya harus menepi lebih lama dari biasanya.
Dengan keunggulan 2-0, Thunder kini mengantongi kepercayaan diri tinggi menjelang Game 3 yang akan digelar di kandang Lakers, Crypto.com Arena, Sabtu malam waktu setempat. Sementara itu, Lakers harus segera menemukan solusi atas dominasi Thunder dan memperbaiki komunikasi serta strategi pertahanan, terutama saat Gilgeous-Alexander berada di bangku cadangan. Luke Kennard, salah satu pemain Lakers, menegaskan bahwa timnya harus meningkatkan fisik dan konsentrasi, terutama dalam menjaga pemain Thunder selain Gilgeous-Alexander. “Saat Shai keluar, kami harus lebih fokus menjaga pemain lain yang juga bisa mencetak poin. Kami harus bicara lebih banyak tentang mereka,” kata Kennard seperti dikutip mediakampung.com.
Hingga saat ini, rekor pertemuan musim ini sepenuhnya dikuasai Thunder. Empat kemenangan di musim reguler dengan selisih 29, 19, 43, dan 36 poin, serta dua kemenangan di babak playoff, semakin mempertegas dominasi mereka atas Lakers musim ini. Lakers kini menghadapi tantangan berat untuk membalikkan keadaan, apalagi mereka sudah menjadi underdog terbesar dalam karier LeBron James selama 23 musim terakhir. Perkembangan terbaru, sejumlah pemain Lakers menyuarakan harapan agar wasit lebih adil di laga berikutnya, sementara Thunder tetap fokus menjaga momentum kemenangan menuju Game 3.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan