Media Kampung, Kota Palangka Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut dilaporkan telah berlangsung selama hampir empat bulan. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (14 Oktober 2026) sekitar pukul 08.00 WIB, jarak pandang di Kota Palangka Raya kurang dari 150 meter.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tjilik Riwut Palangka Raya, kualitas udara di wilayah tersebut pada pukul 08.00 WIB masuk kategori berbahaya. Kabut asap yang menyelimuti kota ini juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat.
Aminah, seorang pedagang makanan dan gorengan di Jalan RTA Milono, Kota Palangka Raya, mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat kondisi tersebut. Ia mengatakan, biasanya ia berjualan mulai pukul 06.00 WIB hingga 15.00 WIB dan memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp 600 ribu per hari. Namun, sejak kabut asap menyelimuti kota, keuntungan hariannya turun menjadi sekitar Rp 500 ribu. “Biasanya kami dalam satu hari mulai buka pagi pukul 06.00 WIB sampai sore hari pukul 15.00 WIB mendapat keuntungan bersih mencapai Rp 600 ribu. Namun akibat kabut asap ini hanya mendapat Rp 500 ribu. Ini mungkin masyarakat enggan keluar rumah akibat asap,” katanya.
Aminah berharap kabut asap akibat karhutla segera berakhir sehingga kondisi udara kembali normal dan masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa.













