BANYUWANGI – Enam pelukis Banyuwangi yang tergabung dalam komunitas OTS (On The Spot) Tapak Tilas Banyuwangi mengabadikan keindahan destinasi wisata Savana Beach Pakem melalui karya lukisan yang dibuat langsung di lokasi, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan melukis di alam terbuka tersebut digelar di kawasan wisata Pantai Savana Pakem, Desa Kertosari, Kabupaten Banyuwangi. Komunitas OTS Tapak Tilas Banyuwangi memilih konsep on the spot dengan melukis langsung objek dan suasana yang mereka temui di lokasi.
Nama Tapak Tilas Banyuwangi memiliki makna jejak Banyuwangi yang ingin direkam dan dituangkan para seniman melalui karya seni rupa. Setiap lokasi yang dikunjungi diharapkan dapat meninggalkan jejak visual sekaligus menjadi dokumentasi artistik tentang kekayaan alam, budaya, dan kehidupan Banyuwangi.
Kegiatan di Pantai Savana Pakem menjadi langkah awal komunitas tersebut dalam mengangkat berbagai destinasi Banyuwangi melalui medium lukisan.

Savana Beach Pakem dipilih karena menjadi salah satu destinasi yang belakangan banyak menarik perhatian masyarakat. Selain memiliki akses yang relatif dekat dari pusat Kota Banyuwangi, kawasan tersebut menawarkan pemandangan alam yang dinilai memiliki daya tarik tersendiri untuk diabadikan dalam karya seni.
Mengusung tema “Jejak Rupa Osing”, para pelukis menampilkan karakter karya dengan pendekatan natural, realis, hingga ekspresif. Perbedaan gaya tersebut menjadi kekayaan tersendiri dalam menggambarkan satu lanskap yang sama melalui sudut pandang dan sentuhan artistik masing-masing pelukis.
Hasil karya yang dibuat secara langsung di lokasi tersebut rencananya akan dipamerkan dalam pameran lukis di Banyuwangi yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Salah seorang pelukis, N. Kojin, mengatakan kegiatan OTS Tapak Tilas Banyuwangi tidak hanya bertujuan menghasilkan karya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi pariwisata Banyuwangi melalui seni rupa.
“Kegiatan ini juga untuk memancing kembali semangat seniman Banyuwangi yang selama ini mungkin mulai mati suri. Seniman harus peduli dan terus nguri-uri seni rupa Banyuwangi agar tetap berkarya. Kearifan lokal juga harus terus dijaga,” ujar N. Kojin.
Menurutnya, seni dan budaya memiliki hubungan yang kuat dengan perkembangan sebuah destinasi wisata. Kehadiran seniman dan karya seni dapat memberikan perspektif lain dalam memperkenalkan kekayaan suatu daerah.
“Pariwisata akan kering dan tidak hidup jika seni dan budaya itu mati,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, para pelukis juga ingin mengambil bagian dalam membangun Banyuwangi melalui bidang seni dan kebudayaan. Semangat itu sejalan dengan nilai kebersamaan dalam slogan pembangunan Banyuwangi, Tandang Bareng, yang dimaknai sebagai ajakan untuk bekerja dan bergerak bersama dari berbagai sektor demi kemajuan daerah.
Selain melestarikan seni dan budaya, khususnya seni rupa, komunitas Tapak Tilas Banyuwangi juga ingin membuka kembali ruang kreativitas dan kolaborasi bagi para perupa di daerah.
Enam pelukis yang tergabung dalam kegiatan OTS Tapak Tilas Banyuwangi tersebut yakni N. Kojin, Harianto Koi, Sapto Prabowo, Wahyudi, Mbah Eko, dan Handoko Sadli.
Para seniman tersebut juga aktif mengikuti berbagai pameran seni di luar Banyuwangi, di antaranya di Surabaya, Bandung, hingga Bali.
Melalui sapuan kuas yang dikerjakan langsung di tengah lanskap Pantai Savana Pakem, keenam pelukis itu tidak sekadar merekam keindahan alam. Mereka juga berupaya meninggalkan jejak tentang Banyuwangi melalui bahasa visual, sekaligus mengingatkan bahwa pariwisata, seni, dan budaya dapat tumbuh bersama ketika seluruh elemen masyarakat ikut mengambil peran. (ric)













Tinggalkan Balasan