Media Kampung – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa negara tidak boleh tinggal diam ketika menemukan praktik yang merugikan petani sawit. Pernyataan ini disampaikan Menhan Amran dalam acara Dies Natalis ke-25 Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University di Bogor, Kamis lalu.

Menurut Amran, gejolak harga tandan buah segar (TBS) yang sempat terjadi merupakan anomali yang tidak sejalan dengan kondisi pasar global. Ia mengaku menerima banyak keluhan dari petani sawit, bahkan saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.

“Saya sedang di Tanah Suci ketika mendapat laporan soal harga TBS yang turun. Begitu selesai ibadah, saya mendapat telepon dari Presiden. Beliau meminta agar persoalan ini segera diselesaikan karena menyangkut kehidupan jutaan petani sawit Indonesia,” ungkap Amran.

Dialog tersebut bermula dari pertanyaan Ketua BEM IPB, Abdul Aziz, yang mengapresiasi keberhasilan pemerintah mempercepat target swasembada pangan. Aziz menyebut capaian itu luar biasa di tengah krisis pangan dan ketidakpastian geopolitik global.

Amran menjelaskan bahwa produksi beras nasional mencapai sekitar 34,6 juta ton, dengan stok beras nasional di kisaran 5,3 juta ton—tertinggi sejak Indonesia merdeka. Sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan PDB tertinggi dalam 25 tahun terakhir.

“Kita janji empat tahun, alhamdulillah bisa lebih cepat. Tetapi ini bukan karena saya. Ini hasil kerja keras semua pihak,” kata Amran.

Meski sektor pangan menunjukkan perkembangan positif, perhatian pemerintah tetap tertuju pada persoalan harga TBS. Amran menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal kesejahteraan petani sawit.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.