Media Kampung – Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Haikal Hassan, memberikan apresiasi terhadap Visi 2030 yang dicanangkan Arab Saudi di bawah kepemimpinan Pangeran Mohammed bin Salman (MBS). Ia menilai inisiatif tersebut membuka berbagai peluang kerja sama antara Indonesia dan Arab Saudi, terutama dalam sektor fesyen muslim dan pariwisata.

Haikal menyampaikan hal itu saat menghadiri acara pelepasan jemaah haji undangan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud di Jakarta pada Selasa, 19 Mei 2026. Ia mencontohkan prestasi Indonesia sebagai negara dengan fashion halal terbaik di dunia pada tahun sebelumnya, yang dapat menjadi modal kuat untuk pengembangan kerja sama dengan Arab Saudi di bidang tersebut.

Selain fesyen, Haikal juga menyoroti sektor pariwisata sebagai area potensial bagi kedua negara. Ia mengamati bahwa fokus Visi 2030 tidak hanya mengarahkan Arab Saudi sebagai destinasi ibadah di Mekkah dan Madinah, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menarik. Hal ini sejalan dengan strategi diversifikasi ekonomi yang diusung oleh pemerintah Arab Saudi.

“Visi Pangeran MBS sangat luar biasa dengan menjadikan Arab Saudi tidak hanya kota ibadah, tapi juga destinasi pariwisata yang lengkap,” ungkap Haikal. Ia menambahkan bahwa biasanya wisatawan di kawasan Timur Tengah lebih banyak berkunjung ke Dubai, namun di masa depan Arab Saudi diharapkan menjadi alternatif utama.

Haikal juga menjelaskan bahwa BPJPH telah menjalin kerja sama dengan Arab Saudi dalam empat bidang utama, yaitu makanan, minuman, obat-obatan, dan kosmetik. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan bersama Halal Saudi Center (HSC) pada Mei 2026 yang disaksikan langsung oleh Kementerian Perdagangan Saudi.

Melalui kerja sama ini, produk-produk yang masuk ke kedua negara dijamin kehalalannya dengan sistem Mutual Recognition Agreement (MRA). Haikal menegaskan bahwa standar halal Saudi Arabia menjadi acuan tertinggi yang diikuti oleh Indonesia, sehingga produk halal dari kedua negara dapat saling diakui tanpa hambatan.

Visi 2030 sendiri merupakan cetak biru ambisius yang bertujuan mendiversifikasi ekonomi Arab Saudi, memberdayakan masyarakat, dan menciptakan iklim investasi yang dinamis baik untuk investor lokal maupun internasional. Visi ini dilaksanakan secara bertahap dalam beberapa fase dengan fokus pada reformasi sektor publik, investasi strategis, dan pemanfaatan peluang pertumbuhan baru.

Dengan berbagai peluang yang terbuka, kerja sama Indonesia-Arab Saudi di bawah payung Visi 2030 berpeluang semakin diperkuat dalam berbagai sektor, terutama yang berkaitan dengan halal dan pariwisata. Haikal Hassan optimistis kolaborasi ini akan memberikan manfaat signifikan bagi kedua negara di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.