Media Kampung – Film dokumenter Pesta Babi menyoroti konflik agraria dan dampak proyek strategis nasional yang mengancam kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan. Karya ini mengangkat isu deforestasi besar-besaran akibat pembukaan lahan untuk perkebunan industri yang memicu perlawanan dari komunitas lokal.
Disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, film yang dirilis pada 2026 ini mengangkat kisah masyarakat suku Marind Anim, Yei, Awyu, dan Muyu di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Dokumenter berdurasi sekitar 90 menit ini menggabungkan pendekatan jurnalistik dan antropologis untuk mengungkap bagaimana proyek pembangunan nasional mengubah lanskap hutan dan mengancam sumber penghidupan masyarakat adat.
Film ini memperlihatkan momen-momen kedatangan alat berat dan ekskavator yang membawa perubahan besar pada hutan yang selama ini menjadi rumah dan sumber pangan utama masyarakat adat, terutama hutan sagu. Tanah ulayat yang selama ini menjadi identitas budaya dan penopang hidup mereka kini berhadapan dengan pembukaan lahan monokultur untuk produksi biodiesel sawit, bioetanol tebu, dan program ketahanan pangan.
Kisah dalam film juga menampilkan sosok Yasinta Moiwend dari suku Marind dan Vincen Kwipalo dari suku Yei, yang menggambarkan rasa terkejut dan upaya perlawanan masyarakat adat terhadap perubahan besar yang terjadi. Tradisi Pesta Babi yang menjadi judul film merupakan ritual adat yang melambangkan persatuan dan ungkapan syukur, sekaligus menjadi metafora bagi kritik terhadap eksploitasi tanah adat oleh korporasi dan kekuasaan yang berjalan tanpa persetujuan masyarakat.
Sutradara menjelaskan bahwa pesta babi bukan hanya sebuah tradisi makan bersama, melainkan simbol perlawanan dan harapan yang kini terancam punah. Film ini juga menampilkan bagaimana masyarakat adat memasang tanda “salib merah” sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran perusahaan dan militerisasi wilayah yang dianggap sebagai bentuk kolonialisme modern.
Pesta Babi mendapat perhatian luas dan memicu kontroversi, bahkan beberapa acara nonton bareng (nobar) film ini dibubarkan di beberapa daerah. Sistem distribusi film ini pun terbatas, tidak tersedia di platform streaming atau YouTube resmi, sehingga untuk menontonnya hanya bisa melalui nobar resmi yang diatur oleh komunitas, kampus, atau organisasi tertentu dengan mekanisme pendaftaran khusus.
Kolaborasi antara Dandhy Laksono yang berlatar belakang jurnalis investigasi dan Cypri Paju Dale yang merupakan antropolog memberikan keseimbangan antara narasi visual yang kuat dan analisis mendalam terhadap isu yang diangkat. Film ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan ajakan refleksi tentang bagaimana pembangunan nasional dapat berujung pada penindasan dan penghilangan hak-hak masyarakat adat di Papua.
Dengan pengangkatannya yang tajam terhadap isu sensitif, Pesta Babi memperkaya diskusi nasional soal keadilan sosial, hak atas tanah, dan keberlanjutan lingkungan di Indonesia. Film ini menjadi pengingat pentingnya menghormati suara masyarakat adat dalam setiap proyek pembangunan yang berdampak pada ruang hidup mereka.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan