Media KampungPelabuhan Al-Balad di Jeddah pada tahun 1925 menjadi pintu masuk utama bagi jemaah haji dari berbagai belahan dunia, termasuk Nusantara. Pelabuhan ini menjadi saksi perjalanan panjang para jemaah yang menempuh lautan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya tiba di kota suci Makkah.

Jemaah asal Nusantara berangkat dari pelabuhan-pelabuhan utama seperti Batavia, Surabaya, Semarang, Makassar, Padang, dan Aceh menggunakan kapal uap. Selain dari Nusantara, pelabuhan ini juga melayani kedatangan jemaah dari India, Afrika, Turki, Persia, Mesir, dan Asia Tengah. Laut Merah menjadi jalur penting yang menghubungkan perjalanan ibadah umat Islam dari berbagai wilayah.

Perjalanan haji kala itu tidak mudah. Banyak jemaah yang berasal dari kalangan petani desa rela menabung sepanjang hidup untuk menjalankan ibadah ini. Mereka menghadapi tantangan besar seperti badai laut dan penyakit yang tak jarang mengancam nyawa. Dalam pelayaran panjang melintasi Samudra Hindia, para jemaah harus tidur berdesakan di atas tikar pandan di kapal.

Ketika kapal mulai mendekati Jeddah, rasa haru menyelimuti jemaah yang tak jarang meneteskan air mata saat melihat pelabuhan tua di tepi Laut Merah. Kapal besar biasanya berlabuh agak jauh dari pantai, dan jemaah kemudian diangkut menggunakan perahu kecil untuk mencapai daratan.

Pelabuhan Al-Balad sendiri dikenal sebagai pusat aktivitas perdagangan internasional yang ramai, menjadi tempat bertemunya berbagai bahasa dari dunia Islam. Kawasan ini berkembang menjadi pusat perdagangan, penginapan bagi jemaah, serta pasar tradisional yang hidup. Rumah-rumah rawashin berbahan batu karang khas Laut Merah berdiri kokoh memperkuat identitas kawasan ini.

Selain sebagai pintu gerbang haji, Pelabuhan Al-Balad juga mempererat hubungan keilmuan Islam antara Hijaz dan Nusantara sejak awal abad ke-20. Banyak ulama Indonesia yang menetap di Makkah setelah tiba melalui pelabuhan ini, memperdalam ilmu agama dan membangun jaringan keagamaan.

Perjalanan haji pada masa itu penuh dengan tantangan, termasuk wabah kolera, malaria, dan keterbatasan air bersih. Meski demikian, para jemaah tetap bersyukur dan merasa mendapat kehormatan sebagai tamu Allah SWT saat menapaki perjalanan suci tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.