Media KampungKecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 menewaskan puluhan penumpang, namun satu kisah menonjol: Nuryati berhasil meloloskan diri dari gerbong KRL yang hancur namun nyawanya tak tertolong.

Tabrakan terjadi ketika Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek menabrak KRL yang sebelumnya terhenti akibat tabrakan dengan taksi di rel, memicu kerusakan struktural pada beberapa gerbong.

Gerbong KRL yang terdampak menjadi ruang sempit berisi penumpang terjepit, debu, dan asap tebal, membuat sirkulasi udara sangat terbatas dan menghambat pergerakan tim penyelamat.

Tim SAR Gabungan, dipimpin oleh Ryan Christian dari Kantor SAR Jakarta, tiba di lokasi dalam hitungan menit dan langsung menyiapkan peralatan evakuasi serta menilai kondisi darurat di dalam gerbong.

Menurut Ryan, “Udara yang di dalam sangat terbatas, sehingga tim harus bekerja cepat dengan napas terkontrol untuk menghindari risiko asfiksia.”

Di tengah kepanikan, Nuryati, seorang perempuan berusia 38 tahun, berhasil merobek pintu gerbong yang terjepit dan meluncur ke platform bersama beberapa penumpang lain.

Petugas SAR mengangkat Nuryati dengan tandu, mencatat bahwa seluruh anggota tubuhnya tampak utuh namun ia mengalami luka memar berat pada dada dan kaki.

Setelah dibawa ke ruang perawatan darurat Stasiun Bekasi Timur, Nuryati diberikan pertolongan pertama, termasuk penanganan trauma dan pemasangan perban.

Dokter tim menyatakan bahwa cedera internal yang tidak tampak pada pemeriksaan awal berpotensi mengancam nyawa, namun tim medis berupaya menstabilkan kondisinya.

Meski telah dievakuasi, Nuryati akhirnya meninggal pada pukul 02.15 WIB keesokan harinya di RS Mitra Keluarga Bekasi setelah mengalami komplikasi perdarahan.

Desiana Kartika Bahari, Kepala Kantor SAR Jakarta, menyampaikan, “Kami berhasil mengevakuasi Nuryati dalam keadaan stabil, namun luka internalnya terlalu parah untuk ditangani dalam waktu singkat.”

Mahfud, ayah Nuryati, yang turut berada di lokasi, mengaku tidak menyangka putrinya yang sempat melarikan diri justru harus berjuang melawan luka yang tak terlihat.

Kasus Nuryati bertepatan dengan evakuasi korban terakhir, Endang Kuswati, yang berhasil diselamatkan dengan selamat dan masih dirawat di rumah sakit.

Rara Dania, salah satu survivor lain, mengungkapkan bahwa ia sempat terjepit dan terlempar ke sisi gerbong, namun selamat berkat bantuan petugas SAR.

Menurut data resmi, kecelakaan menewaskan 12 orang, melukai 34 lainnya, dan menimbulkan kerusakan signifikan pada tiga gerbong KRL.

Pemerintah Daerah Bekasi mengumumkan akan melakukan audit menyeluruh pada prosedur keselamatan jalur kereta serta memperketat inspeksi teknis pada armada KRL.

Investigasi masih berlangsung, dan otoritas menjanjikan transparansi penuh serta rekomendasi perbaikan untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.