Media Kampung – 12 April 2026 | Pendukung Pram, organisasi pecinta lingkungan, menegaskan pentingnya perburuan ikan sapu-sapu sebagai langkah strategis untuk melindungi ekosistem perairan di wilayah Jawa Timur.

Untuk mengatasi penurunan tersebut, Pram bersama warga setempat, aparat pemerintah daerah, dan unsur militer menyiapkan program penangkapan massal yang dimulai pada 1 April 2024.

Program ini melibatkan 12 unit kapal TNI Angkatan Laut, 30 kapal nelayan tradisional, serta 200 relawan sukarelawan dari komunitas lingkungan.

Target penangkapan ditetapkan sebanyak 1.200 ekor sapu-sapu per minggu, dengan tujuan mengurangi tekanan pemangsaan alami dan memulihkan rantai makanan di sungai-sungai utama.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyediakan dana bantuan sebesar Rp 2 miliar melalui program Dana Lingkungan Hidup (DLH) untuk mendukung logistik penangkapan.

Selain penangkapan, Pram juga menyelenggarakan pelatihan pengolahan limbah organik bagi nelayan, agar hasil tangkapan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau kompos.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa penggunaan limbah sapu-sapu sebagai pakan ternak dapat meningkatkan produktivitas peternakan lokal sebesar 12 persen.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi, Dr. Hadi Susanto, menegaskan bahwa program ini selaras dengan Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk revitalisasi ekosistem air tawar.

“Kami melihat sinergi antara penangkapan terkontrol dan edukasi masyarakat sebagai kunci keberhasilan konservasi,” ujar Dr. Hadi dalam konferensi pers pada 5 April 2024.

Pendukung Pram menambahkan bahwa sapu-sapu yang berlebih dapat menjadi predator utama bagi ikan-ikan kecil yang berperan penting dalam penyaringan nutrisi air.

Studi oleh Universitas Brawijaya mengidentifikasi bahwa kepadatan sapu-sapu di sungai Brantas mencapai 180 ekor per hektar, jauh di atas ambang batas ekologi.

Penurunan kepadatan ini diharapkan dapat menurunkan tingkat eutrofikasi, yang selama ini menyebabkan pertumbuhan alga berlebih dan menurunnya kadar oksigen terlarut.

Selain itu, penangkapan massal juga diharapkan dapat mengurangi praktik illegal fishing yang menggunakan jaring berukuran besar dan bahan beracun.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan regulasi baru yang melarang penggunaan jaring selektif pada area tangkapan sapu-sapu hingga akhir tahun 2024.

Regulasi tersebut akan dipantau oleh Satpol PP dan unit patroli laut, yang dilaporkan telah melakukan 45 inspeksi sejak Januari 2024.

Keberhasilan program juga diukur melalui peningkatan kualitas air, yang dipantau oleh Balai Pengkajian Teknologi Lingkungan (BPTL) dengan indikator BOD dan COD.

Data awal menunjukkan penurunan nilai BOD sebesar 18 persen dan COD sebesar 22 persen pada bulan Maret dibandingkan Februari.

Komunitas nelayan setempat menyambut baik inisiatif ini, menyatakan bahwa hasil tangkapan sapu-sapu dapat menambah pendapatan bulanan rata-rata Rp 1,5 juta per kapal.

Sebagai langkah lanjutan, Pram berencana mengadakan program restorasi vegetasi riparian di sepanjang tiga sungai utama pada akhir 2024.

Jika target tercapai, diproyeksikan ekosistem perairan di wilayah tersebut akan pulih sepenuhnya dalam lima tahun, meningkatkan keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan lokal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.