Media Kampung – Para pecinta MotoGP bersiap menyambut seri klasik Belanda 2026 di Sirkuit Assen, yang tahun ini diprediksi menjadi edisi terpanas sepanjang sejarah. Suhu udara diperkirakan menembus 35°C, memberikan tantangan ekstra bagi para pembalap dan tim. Selain faktor cuaca, akhir pekan ini juga menjadi momen transisi teknis seiring penyesuaian aturan pelarangan holeshot device.
Modal Positif dari Brno
Tim Honda HRC Castrol datang ke Assen dengan kepercayaan diri tinggi setelah meraih hasil positif di seri sebelumnya di Brno, Republik Ceko. Luca Marini finis di posisi kedelapan, hanya terpaut dua poin untuk masuk sepuluh besar klasemen. Sementara itu, Joan Mir berhasil finis kelima, menyamai hasil terbaik tim musim ini.
Target Marini: Q2 Sejak Hari Jumat
Luca Marini menegaskan target utamanya di Assen adalah tampil kuat pada sesi Jumat untuk langsung mengamankan slot di kualifikasi kedua (Q2). Menurutnya, Assen adalah sirkuit yang rumit untuk melakukan manuver menyalip, sehingga posisi start di empat baris terdepan akan sangat menguntungkan. “Melihat prakiraan cuaca, saya rasa belum pernah ada GP Belanda sepanas ini. Mari kita lihat bagaimana hal itu mengubah segalanya,” ujar Marini.
Joan Mir: Momentum Kebangkitan
Joan Mir juga memancarkan optimisme. Ia percaya performa impresif di Brno membuktikan pengembangan motor RC213V mulai menunjukkan arah yang tepat. “Saya merasa sangat baik menuju Assen. Trek ini unik dan karakternya sangat berbeda, tetapi saya yakin kami bisa terus menunjukkan potensi terbaik. Mari kita manfaatkan akhir pekan ini secara maksimal,” kata Mir.
Strategi Adaptasi Cuaca Ekstrem
Dengan suhu ekstrem, kru mekanik harus menyiapkan strategi adaptasi, termasuk manajemen ban dan pendinginan mesin. Kombinasi tren kebangkitan performa motor, adaptasi terhadap panas, serta motivasi tinggi dari kedua pembalap membuat Honda HRC Castrol berpotensi menjadi tim kejutan di Sirkuit Assen yang dijuluki “The Cathedral of Speed”.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan