Media Kampung – Kopi luwak sering disebut sebagai salah satu ikon budaya Indonesia yang unik dan eksklusif. Proses produksinya yang melibatkan luwak pemakan biji kopi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara. Namun di balik narasi promosi yang indah, terdapat paradoks yang mengancam reputasi Indonesia di mata dunia.

Penelitian Hooper (2022) menunjukkan bahwa wisata kopi luwak di Bali cukup populer, dengan 3.364 ulasan wisatawan dari 25 lokasi yang diunggah di TripAdvisor antara Oktober 2011 hingga Maret 2020. Angka ini mengindikasikan bahwa kopi luwak telah menjadi salah satu sektor wisata yang banyak dikunjungi di Pulau Dewata.

Namun, studi Lewis-Whelan et al. (2024) mengungkapkan sisi gelap dari industri ini. Banyak luwak di perkebunan wisata Bali ditempatkan dalam kandang dengan ruang gerak terbatas dan kondisi yang tidak memenuhi standar kesejahteraan hewan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa praktik di lapangan belum sejalan dengan prinsip Five Freedoms yang dikembangkan oleh World Organisation for Animal Health (WOAH).

Joseph Nye (1990) mendefinisikan soft power sebagai kemampuan memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan legitimasi, bukan paksaan. Kopi luwak sebenarnya berpotensi kuat sebagai instrumen soft power Indonesia. Namun, jika isu pengandangan luwak yang tidak layak tidak segera ditangani, daya tarik tersebut dapat berbalik menjadi persepsi negatif.

Fenomena ini disebut boomerang effect, ketika instrumen yang dibangun untuk meningkatkan citra justru melemahkan reputasi. Dominannya orientasi ekonomi dalam industri kopi luwak menjadi pemicu utama. Tingginya permintaan wisatawan menciptakan insentif untuk mempertahankan produksi, tetapi sering mengesampingkan kesejahteraan hewan.

Untuk mengatasi paradoks ini, penguatan kopi luwak sebagai soft power harus diiringi dengan penerapan pariwisata yang lebih etis dan berkelanjutan. Penerapan standar Five Freedoms dari WOAH, pengawasan yang lebih ketat, serta transparansi proses produksi menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan wisatawan dan reputasi Indonesia.

Pada akhirnya, kopi luwak menunjukkan bahwa soft power tidak hanya bergantung pada keunikan budaya, tetapi juga pada praktik yang mendasarinya. Selama narasi promosi tidak selaras dengan realitas di lapangan, kopi luwak akan tetap menjadi paradoks: aset budaya yang mampu mengangkat, sekaligus berpotensi merusak citra Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.