Media Kampung – Video yang beredar di media sosial memperlihatkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Baitussalam, Pekalongan, berbelatung, memicu kecaman publik dan memaksa Satuan Pengawas Pangan dan Gizi (SPPG) mengeluarkan pernyataan permintaan maaf serta janji penggantian makanan.
Insiden terdeteksi pada hari Senin, 1 April 2024, ketika beberapa siswa mengamati perubahan warna dan tekstur pada nasi serta lauk yang disajikan dalam program MBG. Siswa kemudian merekam video yang menunjukkan partikel berwarna putih menyerupai belatung pada piring makanan, lalu membagikannya ke platform berbagi video. Rekaman tersebut dengan cepat menjadi viral, menimbulkan pertanyaan tentang prosedur kebersihan di dapur sekolah.
Setelah video menyebar, tim SPPG yang bertugas mengawasi standar keamanan pangan di sekolah‑sekolah wilayah Jawa Tengah melakukan inspeksi darurat di SMK Baitussalam. Hasil inspeksi mengonfirmasi adanya kontaminasi pada bahan makanan yang disajikan, meski penyebab pasti belum dipublikasikan secara rinci.
Menanggapi temuan tersebut, perwakilan SPPG mengeluarkan pernyataan resmi pada Rabu, 3 April 2024, dengan menyatakan, “Kami mohon maaf atas kejadian ini dan memastikan makanan yang terkontaminasi akan segera diganti dengan makanan yang memenuhi standar kebersihan dan gizi.” Pihak sekolah pun berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan setempat untuk menyiapkan paket makanan alternatif sambil menunggu hasil evaluasi lengkap.
Program MBG, yang diluncurkan pemerintah pada tahun 2022, bertujuan menyediakan makanan bergizi secara gratis bagi siswa di seluruh Indonesia, khususnya di wilayah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Program ini dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Kementerian Kesehatan, dengan dukungan dari SPPG dalam pengawasan mutu makanan.
Insiden di Pekalongan menambah daftar kasus serupa yang pernah terjadi di beberapa daerah, menggarisbawahi pentingnya pengawasan ketat pada rantai pasokan makanan sekolah. Pada tahun 2023, Kementerian Kesehatan mengeluarkan pedoman baru tentang prosedur sanitasi dan audit berkala bagi kantin sekolah, namun pelaksanaannya masih memerlukan penegakan yang konsisten.
Pengawasan SPPG meliputi pemeriksaan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajian akhir. Setelah kejadian ini, SPPG berjanji akan meningkatkan frekuensi inspeksi serta memberikan pelatihan tambahan bagi petugas dapur SMK Baitussalam guna mencegah terulangnya kontaminasi serupa.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa SPPG telah menyiapkan paket makanan pengganti yang akan didistribusikan pada hari Jumat, 5 April 2024, dengan pengawasan ketat dari tim ahli gizi dan keamanan pangan. Sekolah juga mengumumkan bahwa proses audit internal akan dilakukan secara rutin selama tiga bulan ke depan untuk memastikan kepatuhan pada standar kebersihan.
Kasus ini menjadi pengingat bagi seluruh institusi pendidikan bahwa program bantuan gizi harus disertai dengan kontrol kualitas yang menyeluruh, terutama ketika melibatkan ribuan anak yang sangat bergantung pada makanan tersebut untuk pertumbuhan dan konsentrasi belajar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan