Media Kampung – Fenomena wuyung, istilah Jawa untuk rasa kasmaran yang menggebu-gebu, kembali menjadi sorotan setelah artikel Kumparan mengulas cara pemuda Jawa “tempo doeloe” mengekspresikan cinta lewat Tembang Asmaradana.

Secara linguistik, wuyung merujuk pada perasaan cinta mendalam yang menimbulkan kegelisahan, rindu, bahkan gejala fisik ketika sang pujaan tak dapat ditemui.

Para pemuda Jawa pada abad ke-17 hingga ke-19 mengiringi wuyung mereka dengan nyanyian macapat, khususnya Asmaradana, yang menggabungkan unsur Sansekerta dan filosofi asmara.

Di era Kerajaan Mataram Islam, budaya nembang macapat menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas lelaki Jawa, sekaligus sarana mengatur gejolak hati.

Asmaradana, salah satu dari 11 tembang macapat, sering dinyanyikan secara “rengeng-rengeng” pada malam sunyi sebagai wujud pengakuan wuyung.

“Kasmaran atau rindu yang menggebu-gebu” adalah makna utama wuyung, sementara frasa nandang wuyung menandakan seseorang sedang mengalami jatuh cinta.

Lara wuyung, atau lara branta, menggambarkan gejala psikosomatis akibat cinta terhalang, yang dapat memengaruhi nafsu makan dan kualitas tidur.

Serat Centhini, ensiklopedia budaya Jawa abad ke-19, memuat ajaran tentang ngelmu kasmaran dan menampilkan karakter Syekh Amongraga serta Niken Tambangraras yang menghidupkan konsep wuyung dalam narasi.

Bagian Asmaradana 388 dalam Serat Centhini menonjolkan ajaran spiritual tentang penyatuan rasa (estri) dan rasio (lanang) demi mencapai asih kang suci.

Contoh bait: “Sejatining lanang apan estri / Sejatining estri apan lanang” menegaskan dualitas gender dalam konteks spiritual, bukan sekadar biologis.

Interpretasi Sufi Kejawen melihat wuyung sebagai proses penyatuan diri dengan Tuhan, di mana cinta manusia menjadi cerminan cinta Ilahi.

Pada abad ke-20, tembang “Langgam Wuyung” mengadaptasi melodi keroncong dengan gamelan, memperkaya cara pemuda mengekspresikan wuyung melalui musik modern.

Penggunaan angka 9 dan 2 dalam lirik Dandanggula Bowo Wuyung menambah dimensi simbolik, di mana 9 melambangkan puncak spiritual dan 2 menggambarkan dualitas kehidupan.

Artikel Kumparan yang mengangkat topik ini dipublikasikan pada Mei 2024, menegaskan kembali relevansi wuyung dalam konteks kebudayaan kontemporer.

Dengan menelusuri Asmaradana dan Serat Centhini, wuyung tetap menjadi cermin nilai estetika, spiritual, dan sosial yang menghubungkan generasi pemuda Jawa masa lalu dengan masa kini.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.