Media Kampung – Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menegaskan bahwa hingga kini tidak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan anggotanya meski sektor hulu petrokimia dan plastik berada dalam tekanan yang signifikan.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Inaplas Suhat Miyarso dalam Forum Wartawan Industri (Forwin) pada Selasa, 5 Mei 2024, di Gatot Subroto, Jakarta, dengan menegaskan bahwa tidak ada satu pun anggota yang melaporkan kejadian PHK.

Wakil Ketua Umum Inaplas, Edi Rivai, menambahkan bahwa industri petrokimia bersifat siklikal sehingga tekanan saat ini masih dapat dihadapi tanpa melakukan pengurangan tenaga kerja, dan ia tidak memproyeksikan PHK di masa depan.

Edi mengakui tekanan berasal dari kelebihan kapasitas produksi global serta masuknya produk impor dari China, Timur Tengah, dan negara ASEAN lain, yang memperparah kondisi di sektor hulu.

Tekanan tersebut telah terasa sejak beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi COVID-19, dan semakin kompleks karena gejolak geopolitik yang memengaruhi pasokan serta harga energi dunia.

Indonesia masih sangat bergantung pada impor naphtha untuk pabrik cracker domestik, dengan sekitar 90 persen kebutuhan bahan baku dipenuhi dari luar negeri, sementara 60‑70 persen pasokan naphtha Asia berasal dari Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik, termasuk konflik antara Iran dan koalisi US‑Israel, menambah kerentanan rantai pasok naphtha, sehingga Inaplas menilai diversifikasi bahan baku menjadi langkah penting.

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiyanto, menjelaskan bahwa meski Indonesia memiliki produksi naphtha domestik, sebagian besar dialokasikan untuk kebutuhan energi, sehingga industri petrokimia tetap harus mengimpor bahan baku utama.

Ia menekankan bahwa ketergantungan pada pasokan naphtha dari Timur Tengah menuntut pencarian alternatif suplai, baik melalui diversifikasi feedstock maupun peningkatan produksi naphtha dalam negeri.

Dengan tidak adanya laporan PHK, Inaplas menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas tenaga kerja sambil tetap mencari solusi teknis guna mengurangi dampak tekanan eksternal.

Para pelaku industri juga memantau kebijakan pemerintah terkait impor bahan baku dan upaya memperkuat ketahanan energi nasional, yang menjadi faktor kunci dalam menjaga kelangsungan produksi plastik di Indonesia.

Hingga akhir pekan ini, tidak ada proyeksi pemutusan hubungan kerja lebih lanjut, dan Inaplas berencana terus memantau situasi pasar serta mengoptimalkan diversifikasi bahan baku untuk memastikan produksi tetap berjalan tanpa gangguan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.