Media Kampung – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan perlambatan dalam pencapaian target kesehatan global yang ditetapkan menuju tahun 2030. Data terbaru menunjukkan adanya ketimpangan yang semakin melebar dalam akses dan kualitas layanan kesehatan di berbagai negara.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan perlunya investasi besar pada sistem data kesehatan yang kuat agar anggaran dapat digunakan secara efisien dan akuntabel. Ia menyoroti bahwa ketimpangan kesehatan masih terjadi, terutama terhadap perempuan, anak-anak, dan komunitas yang kurang terlayani. “Data ini menunjukkan kemajuan sekaligus ketidaksetaraan yang berkelanjutan, sehingga memperkuat sistem kesehatan yang adil dan data yang tangguh sangat penting untuk menutup kesenjangan,” ujarnya.

Selama delapan tahun terakhir, kemajuan menuju cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage/UHC) stagnan. Walaupun tingkat kematian ibu melahirkan menurun sekitar 40 persen, angka tersebut masih jauh dari target yang diharapkan pada 2030. Selain itu, kematian dini akibat penyakit tidak menular juga belum menunjukkan perbaikan berarti sejak program aksi global diluncurkan. Polusi udara menjadi penyebab kematian sekitar 6,6 juta orang di seluruh dunia pada 2021.

Asisten Direktur Jenderal WHO untuk Urusan Sistem Kesehatan dan Data, Dr. Yukiko Nakatani, mengingatkan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer. Ia menegaskan bahwa sistem ini harus diperkuat agar mampu menghadapi risiko krisis pembiayaan dan keadaan darurat medis. “Tren ini mencerminkan banyak kematian yang sebenarnya bisa dihindari. Dengan meningkatnya risiko lingkungan dan krisis pembiayaan kesehatan, kita harus segera bertindak memperkuat perawatan primer dan memastikan pembiayaan yang berkelanjutan,” kata Nakatani.

Selain itu, pandemi penyakit menular telah melumpuhkan sistem kesehatan global, menyebabkan lebih dari 22,1 juta kematian akumulatif. Pemulihan kesehatan masyarakat berjalan tidak merata antar wilayah, sehingga menghambat peningkatan angka harapan hidup selama dekade terakhir.

Direktur Departemen Data dan Kesehatan Digital WHO, Alain Labrique, mengungkapkan bahwa banyak negara belum menyediakan laporan statistik yang memadai. Ketiadaan data valid tentang penyebab kematian utama membatasi respons kesehatan publik yang cepat dan tepat sasaran. Ia menyebutkan bahwa hanya sepertiga negara memenuhi standar WHO dalam pelaporan data kematian berkualitas tinggi.

WHO merilis laporan kesehatan terbaru pada 13 Mei 2026 sebagai evaluasi kebijakan global dan bahan pertimbangan untuk memperbaiki sistem kesehatan dunia. Organisasi ini mengajak seluruh pemerintah untuk meningkatkan investasi dalam sistem kesehatan yang lebih kuat dan digital agar target kesehatan global dapat kembali ke jalur yang tepat menuju 2030.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.