Media KampungSony Sonjaya meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibangun tanpa kontrak resmi, mengandalkan modal kepercayaan antara Badan Gizi Nasional (BGN) dan perguruan tinggi di Indonesia. Inisiatif ini bertujuan menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penyediaan makanan sehat secara cuma‑cuma.

Program dimulai pada awal April 2026 setelah BGN mengeluarkan rekomendasi agar setiap kampus memiliki minimal satu dapur MBG. Sony Sonjaya, seorang pengusaha sosial, menawarkan dukungan logistik tanpa menuntut perjanjian tertulis, mengandalkan kepercayaan bersama.

Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah, menekankan bahwa implementasi MBG harus dikelola oleh unit usaha kampus, bukan oleh struktur akademik, dan ia menyambut baik tawaran Sony Sonjaya yang bersifat non‑kontrak. Ia menambahkan bahwa tugas utama universitas tetap pada pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, menyatakan bahwa keterlibatan kampus sebagai knowledge‑based solution provider dapat memperkuat ekosistem pangan, dan ia memuji pendekatan kepercayaan Sony Sonjaya yang mempermudah pelaksanaan. Menurutnya, MBG dapat menjadi simpul yang menghubungkan rantai produksi, pengolahan, hingga konsumsi secara efisien.

Menurut BGN, sejak peluncuran MBG pada 4 Mei 2026, lebih dari 12.000 porsi makanan bergizi telah disalurkan di tiga kampus pilot, mengurangi kasus stunting pada anak usia 0‑2 tahun sebesar 2,3 % dalam enam bulan pertama. Data tersebut didukung oleh laporan audit independen yang menunjukkan transparansi penggunaan dana.

Program ini menonjol karena tidak melibatkan kontrak formal, melainkan memorandum kepercayaan yang menegaskan semua pihak berkomitmen pada pelaporan rutin dan audit independen. Pendekatan ini dianggap mengurangi birokrasi dan mempercepat distribusi makanan.

Pada 30 April 2026, Sony Sonjaya mengumumkan rencana memperluas MBG ke lima universitas tambahan, dengan target total distribusi 50.000 porsi pada akhir tahun, sekaligus menyiapkan pelatihan gizi bagi staf dapur. Langkah tersebut menandai fase kedua yang menegaskan keberlanjutan program.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.