Media Kampung – Perselingkuhan menjadi ancaman serius bagi kesehatan fisik, psikologis, serta keutuhan keluarga, sebagaimana disampaikan oleh Budi Jaya Putra dalam ceramah Ahad 20 April 2026 di Yogyakarta.
Dalam acara yang berlangsung di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, ia menekankan bahwa tindakan perselingkuhan dapat memicu stres kronis, depresi, dan gangguan tidur pada pasangan yang terlibat.
Penelitian kesehatan mental menunjukkan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular pada individu yang mengalami konflik hubungan akibat perselingkuhan.
Data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2025 mengindikasikan bahwa 12% kasus konsultasi psikolog di rumah sakit rujukan terkait masalah perceraian berakar pada perselingkuhan.
Budi Jaya Putra menambahkan, “Perselingkuhan bukan sekadar pelanggaran moral, melainkan faktor pemicu kerusakan sistem imun yang berpotensi menurunkan daya tahan tubuh.”
Selain dampak kesehatan, perselingkuhan mengganggu kestabilan ekonomi keluarga karena sering kali menimbulkan biaya hukum, perceraian, dan pengasuhan anak yang terpisah.
Statistik Badan Pusat Statistik mencatat bahwa rata-rata biaya perceraian di Indonesia mencapai 120 juta rupiah, sebagian besar disebabkan oleh perselisihan yang berawal dari perselingkuhan.
Dalam perspektif agama, Muhammadiyah menegaskan pentingnya kesetiaan sebagai landasan kuat keluarga yang sehat dan produktif.
Organisasi tersebut mengajak umat untuk memperkuat komunikasi terbuka, edukasi seksual, dan nilai moral sejak usia dini sebagai pencegahan utama.
Keluarga yang berhasil mengatasi godaan perselingkuhan biasanya melibatkan konseling pasangan, terapi individual, dan dukungan komunitas yang solid.
Studi kasus di Surakarta menunjukkan bahwa 78% pasangan yang mengikuti program konseling berhasil memulihkan kepercayaan dalam kurun waktu enam bulan.
Selain itu, peran media sosial juga diidentifikasi sebagai faktor penyebaran peluang perselingkuhan, dimana platform digital mempermudah kontak rahasia.
Pemerintah daerah Yogyakarta berencana mengadakan workshop literasi digital bagi remaja dan pasangan dewasa guna mengurangi risiko penyalahgunaan media.
Secara keseluruhan, upaya bersama antara lembaga keagamaan, institusi kesehatan, dan pemerintah diperlukan untuk menekan dampak negatif perselingkuhan terhadap masyarakat.
Hingga kini, Budi Jaya Putra menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk terus menyuarakan bahaya perselingkuhan melalui ceramah, pelatihan, dan publikasi ilmiah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan