Media Kampung – Vaksin HPV kini menjadi prioritas imunisasi nasional untuk menurunkan infeksi dan mencegah kanker pada perempuan serta laki‑laki.

Hari Selasa, 21 April 2026, Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pentingnya pemberian vaksin ini kepada kedua gender.

Prof. Hartono Gunardi, ketua Satgas Imunisasi Anak, menjelaskan bahwa hampir setiap orang pernah terinfeksi HPV setidaknya sekali seumur hidup.

Menurutnya, 90 % infeksi akan hilang dalam satu hingga dua tahun berkat sistem imun yang kuat.

Namun, pada individu dengan sistem imun lemah atau perokok, virus dapat menetap dan berpotensi berkembang menjadi lesi pra‑kanker.

Penularan terjadi tidak hanya melalui hubungan seksual, melainkan juga lewat kontak kulit‑ke‑kulit atau selaput lendir, termasuk melalui mulut.

Data penelitian menunjukkan sekitar 10 % laki‑laki memiliki HPV dalam air liur, sementara prevalensi pada perempuan sekitar 3,6 %.

HPV terbagi menjadi tipe berisiko rendah yang menyebabkan kutil kelamin, papiloma pada kulit atau pita suara, serta tipe berisiko tinggi yang dapat memicu lesi pra‑kanker dan kanker serviks, vagina, vulva, anus, serta penis.

Virus masuk ke tubuh melalui luka kecil pada kulit atau selaput lendir, lalu DNA-nya berintegrasi dengan sel inang dan menyebar.

Integrasi ini mengubah sel normal menjadi sel yang berpotensi menular kembali ke orang lain.

Vaksinasi menjadi satu‑satunya cara efektif menghentikan siklus penularan tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa bila hanya perempuan yang divaksin, penurunan prevalensi tipe ganas membutuhkan 30‑50 tahun.

Jika vaksin diberikan secara serentak kepada perempuan dan laki‑laki, penurunan signifikan dapat tercapai dalam sekitar 30 tahun.

Hal ini menegaskan pentingnya cakupan penuh pada kedua gender untuk mempercepat pengendalian virus.

Dr. Hanny Nilasari, Spesialis Kulit dan Kelamin, menambahkan bahwa infeksi HPV sering tidak bergejala sehingga banyak tidak terdeteksi.

Tanpa gejala, virus dapat berkembang menjadi lesi pra‑kanker sebelum penderita menyadarinya.

Vaksin HPV terbukti menurunkan angka infeksi serta mengurangi risiko pembentukan lesi pra‑kanker pada kedua jenis kelamin.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan bahwa vaksin akan mulai diberikan kepada laki‑laki pada tahun 2026.

Program ini mencakup usia 10‑11 tahun secara nasional, dengan target tambahan pada usia 15‑16 tahun dan 20‑21 tahun yang belum terimunisasi.

Langkah tersebut diambil untuk mengurangi peran laki‑laki sebagai carrier virus dan memperkuat perlindungan komunitas.

Menurut Menkes, pemberian vaksin kepada laki‑laki tidak hanya melindungi mereka, tetapi juga memberi rasa aman bagi perempuan.

Ia menegaskan bahwa strategi imunisasi ganda akan meningkatkan cakupan nasional dan menurunkan beban kanker terkait HPV.

Para ahli menyarankan agar orang tua memberikan vaksin kepada anak usia 9‑14 tahun, usia optimal untuk respons imun maksimal.

Usia ini dipilih karena sistem imun masih responsif dan sebelum potensi paparan seksual pertama.

Vaksin tersedia dalam tiga dosis, dengan interval yang disesuaikan oleh program kesehatan daerah masing‑masing.

Penerapan program ini didukung oleh lembaga kesehatan regional dan puskesmas yang menyediakan layanan gratis atau bersubsidi.

Data awal menunjukkan peningkatan partisipasi imunisasi di wilayah perkotaan, namun tantangan masih ada di daerah terpencil.

Pemerintah berkomitmen meningkatkan edukasi publik melalui media, sekolah, dan fasilitas kesehatan.

Kampanye tersebut menekankan fakta bahwa HPV bukan hanya masalah perempuan, melainkan risiko kesehatan bersama.

Dengan dukungan medis, kebijakan, dan partisipasi masyarakat, target menurunkan insiden kanker terkait HPV dalam tiga dekade menjadi realistis.

Pengawasan berkelanjutan akan memastikan efektivitas program dan memungkinkan penyesuaian strategi bila diperlukan.

Hingga akhir April 2026, distribusi vaksin telah dimulai di 25 provinsi, dengan rencana ekspansi ke seluruh wilayah Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.