Media Kampung – Ibu Nina Saleha menuntut RSHS transparan setelah hampir terjadi pertukaran bayinya di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

Insiden terjadi pada 8 April 2026 ketika dua bayi dijadwalkan pulang bersamaan dari ruang Neonatal High Care Unit (NHCU).

Petugas kebingungan mengidentifikasi bayi yang tepat karena kedua bayi berada dalam satu ruangan dan data identitas belum diverifikasi secara lengkap.

Akibat kebingungan itu, seorang staf secara tidak sengaja menyerahkan bayi Nina kepada orang tua lain yang menunggu di ruang yang sama.

Setelah menyadari kesalahan, petugas segera mengambil kembali bayi tersebut sebelum bayi menerima susu pertama.

Nina Saleha mengaku melihat kejadian tersebut dari luar dan menegaskan bahwa bayinya hampir dibawa pulang oleh orang yang bukan orang tuanya.

Ia menyatakan bahwa pihak manajemen RSHS tidak memberikan penjelasan yang konsisten sejak awal kejadian.

“Perkataannya berbeda‑beda dan berbelit‑belit, sedangkan kejadian yang saya lihat jelas,” ujar Nina saat diwawancarai di rumahnya, Cihanyir, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung.

Ia menambah, permintaan untuk melihat rekaman CCTV belum dipenuhi meski dianggap bukti utama.

Tim pengacara yang mendampingi Nina juga melaporkan kesulitan untuk bertemu langsung dengan Direktur Utama rumah sakit.

Menurutnya, hanya kuasa hukum yang dijemput, sementara Direktur utama dikabarkan sedang rapat.

Nina menuntut agar suster, satpam, dan perempuan yang sempat membawa bayi tersebut dipanggil untuk dimintai keterangan.

Ia juga meminta pihak rumah sakit membuka semua rekaman CCTV yang relevan.

Direktur Utama RSHS, dr. H. Rachim Dinata Marsidi, memberikan penjelasan resmi pada 17 April 2026.

Ia menyatakan bahwa bayi Nina pertama kali datang ke Instalasi Gawat Darurat pada 5 April 2026 dengan gejala kuning pada kulit.

Setelah pemeriksaan, bayi dirawat di NHCU dan kondisinya membaik pada 8 April sehingga dipersiapkan untuk pulang.

Rachim menjelaskan bahwa proses identifikasi ulang dilakukan melalui komunikasi antara petugas dan keluarga sebelum penyerahan.

Namun, dalam proses tersebut terjadi gangguan karena dua pasangan suami istri menunggu di ruang yang sama.

Petugas sempat menanyakan keberadaan ibu bayi kepada orang tua lain, yang mengakibatkan kebingungan identitas.

Rachim mengaku bahwa petugas sesaat teralihkan sehingga menyerahkan bayi kepada orang tua yang salah, namun segera mengoreksi kesalahan.

Ia menegaskan tidak ada niat disengaja dan prosedur keselamatan telah diperbaiki setelah insiden.

Laporan resmi telah diajukan ke Polda Jawa Barat dan Ombudsman Republik Indonesia.

Sampai saat penulisan, Nina belum menerima perkembangan signifikan dari penyelidikan resmi.

Ia berharap pihak berwenang dapat menyelesaikan kasus ini secara cepat dan transparan.

Selain itu, Nina menekankan pentingnya komunikasi yang jelas antara rumah sakit dan keluarga pasien.

Ia menilai bahwa ketidakkonsistenan informasi memperparah kecemasan keluarga yang sudah berada dalam situasi krisis.

Para ahli kesehatan menyarankan rumah sakit harus menerapkan protokol identifikasi ganda berbasis barcode atau RFID untuk menghindari kejadian serupa.

Protokol tersebut sudah diterapkan di beberapa rumah sakit internasional dengan hasil penurunan signifikan pada kesalahan penyerahan bayi.

Pihak rumah sakit mengaku akan meninjau kembali SOP identifikasi dan memperketat pelatihan staf.

Kasus ini menambah sorotan publik terhadap standar keselamatan neonatus di Indonesia.

Warga Bandung dan sekitarnya menanti kejelasan apakah langkah-langkah perbaikan akan segera diterapkan.

Hingga kini, kondisi bayi Nina tetap sehat dan telah kembali pulang ke rumah bersama ibunya.

“Alhamdulillah anak saya sehat,” tutup Nina dengan harapan agar kejadian serupa tidak terulang pada pasien lain.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.