Media Kampung – 16 April 2026 | Peralihan musim picu meningkatkan tren kasus demam berdarah dengue (DBD) di Banyuwangi, sehingga Dinas Kesehatan mengimbau warga tetap waspada.

Data resmi menunjukkan hanya dua kasus positif pada bulan Januari 2026, diikuti dua kasus pada Februari, dan lonjakan menjadi enam kasus pada Maret.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, menegaskan peningkatan tersebut terjadi sejak awal Maret.

“Mulai Maret kemarin ada peningkatan kasus. Di bulan Januari dan Februari masing-masing hanya dua kasus positif, lalu di bulan Maret meningkat menjadi enam kasus,” ujarnya pada Kamis (16/4).

Ia menjelaskan bahwa pola cuaca pancaroba menjadi faktor utama penyebab pertumbuhan populasi nyamuk Aedes aegypti.

Pada Januari dan Februari, hujan deras menyebabkan tempat penampungan air meluap dan tidak menjadi sarang nyamuk yang ideal.

Namun ketika hujan turun bersamaan dengan suhu panas, genangan air tetap tertahan, menciptakan lingkungan yang sangat cocok bagi nyamuk berkembang.

Amir menambahkan, “Kalau hujan disertai panas, tempat penampungan air akan terisi, lalu airnya tidak tumpah lagi. Kondisi itu menjadi breeding place yang sangat baik untuk nyamuk.”

Situasi ini membuat masa transisi antara akhir musim hujan dan awal kemarau menjadi periode paling berisiko bagi peningkatan DBD.

Otoritas kesehatan menekankan pentingnya pencegahan sejak dini, khususnya dengan membersihkan dan menutup wadah penampungan air di lingkungan rumah.

Warga diminta secara rutin menguras, membersihkan, dan menutup tempat-tempat yang berpotensi menjadi tempat bertelur nyamuk.

Meski terjadi peningkatan kasus, hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat DBD di Kabupaten Banyuwangi.

Amir menegaskan, “Alhamdulillah sampai sekarang belum ada yang meninggal. Tapi kewaspadaan harus tetap ditingkatkan,” ia menutup pernyataan.

Dinas Kesehatan juga menginstruksikan puskesmas dan tim surveilans untuk terus memantau perkembangan kasus secara intensif.

Tim surveilans diharapkan dapat melakukan deteksi dini dan memberikan edukasi kebersihan lingkungan kepada masyarakat.

Edukasi meliputi cara mengelola sampah, menutup selang air, serta penggunaan larvasida bila diperlukan.

Pemerintah kabupaten berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk memastikan distribusi perlengkapan pencegahan, seperti larvasida dan kelambu.

Selain upaya teknis, Dinas Kesehatan mengajak komunitas lokal untuk berperan aktif dalam program gotong‑royong bersih‑bersih.

Program ini diharapkan dapat mengurangi tempat berkembang biak nyamuk secara signifikan.

Data historis menunjukkan bahwa wilayah dengan kebersihan lingkungan yang baik cenderung mengalami penurunan kasus DBD.

Kondisi cuaca pada awal April 2026 masih berada dalam fase transisi, sehingga potensi peningkatan kasus masih perlu dimonitor.

Para ahli kesehatan masyarakat menekankan bahwa perubahan iklim dapat memperpanjang periode pancaroba, meningkatkan risiko penyebaran DBD di daerah tropis.

Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman kesehatan ini.

Warga Banyuwangi diharapkan tidak menunda pelaporan gejala demam tinggi, nyeri otot, atau ruam kulit yang mencurigakan.

Pemerintah menyediakan layanan konsultasi kesehatan 24 jam melalui call center Dinas Kesehatan.

Jika terdiagnosis DBD, pasien akan mendapat perawatan intensif di rumah sakit terdekat tanpa biaya tambahan.

Upaya pencegahan juga mencakup penyuluhan di sekolah untuk menumbuhkan kesadaran sejak usia dini.

Guru dan tenaga kesehatan sekolah bekerja sama mengajarkan cara mengenali sarang nyamuk dan pentingnya kebersihan lingkungan.

Pemerintah daerah berencana mengadakan kampanye media massa, termasuk radio dan televisi lokal, selama bulan Mei.

Kampanye ini akan menekankan pesan “Jangan biarkan genangan air menjadi sarang nyamuk”.

Secara keseluruhan, situasi DBD di Banyuwangi saat ini berada pada fase peningkatan yang perlu ditanggapi secara serius.

Kewaspadaan masyarakat, tindakan pencegahan yang konsisten, dan koordinasi lintas sektoral menjadi faktor penentu dalam menurunkan angka kasus.

Dengan langkah proaktif, diharapkan tren peningkatan kasus DBD dapat dikendalikan sebelum memasuki musim kemarau penuh.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.