Media Kampung – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai pendekatan literasi digital yang selama ini berfokus pada kemampuan menggunakan perangkat dan internet sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan era kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, peningkatan kecakapan digital kini harus diarahkan pada kemampuan yang lebih kontekstual, produktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.

Pernyataan itu disampaikan Nezar dalam audiensi dengan Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi Indonesia di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat. Ia menjelaskan bahwa program literasi digital ke depan akan lebih menekankan pada upskilling atau peningkatan kecakapan yang sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Menurut Nezar, perubahan arah program literasi digital merupakan langkah yang tepat dan sesuai dengan arahan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kementerian Komdigi telah menjalankan program literasi digital hampir satu dekade, dan hasil evaluasi Bappenas menunjukkan perlunya transformasi.

“Kita melakukan program-program literasi digital sudah cukup lama, hampir satu dekade dan evaluasi yang dilakukan oleh Bappenas terhadap program ini juga sudah final. Kita tidak melanjutkan lagi literasi digital seperti yang dulu,” ungkap Wamen Nezar.

Ia menilai masa untuk memberikan literasi dasar—seperti cara menggunakan gawai dan masuk ke dunia digital—sudah lewat. Hal-hal mendasar seperti keamanan dan etika digital kini sudah banyak diadopsi oleh platform digital melalui community guidelines dan mekanisme lainnya.

“Kalau sekarang kayaknya sudah lewat masa itu. Walaupun masih dibutuhkan, tetapi sudah dikerjakan ataupun diadopsi oleh platform-platform lewat community guidelines dan lain-lain,” tuturnya.

Ke depan, strategi literasi digital Kementerian Komdigi akan lebih berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi disinformasi, misinformasi, dan hoaks—tantangan yang semakin kompleks di era AI.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.