Media Kampung – Tim mahasiswa dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB berhasil membawa inovasi platform prediksi dan verifikasi banjir berbasis kecerdasan buatan bernama Noah AI ke ajang AI Ready ASEAN Youth Challenge di Singapura pada 19 Mei 2026. Mereka mewakili Indonesia setelah memenangkan juara pertama dalam kompetisi nasional yang diikuti lebih dari 300 tim di seluruh Indonesia.
Tim yang bernama “Iseng Hackaton” ini terdiri dari Ari Aziz, Jason Edward Salim, dan Tiffany Chu. Mereka mengembangkan Noah AI dalam waktu singkat, hanya tiga pekan, dengan tujuan mengatasi permasalahan banjir di Indonesia yang sering terjadi, termasuk banjir besar di Kota Medan pada 2025. Platform ini mengintegrasikan berbagai sistem prediksi dan verifikasi banjir yang selama ini tersebar secara terpisah menjadi satu sistem terpadu.
Inovasi Noah AI memiliki tiga fitur utama. Pertama, fitur prediksi banjir yang menggunakan data eksternal seperti Google Flood Hub dan OpenWeatherMap API untuk melatih model AI Long Short-Term Memory (LSTM) guna memperkirakan waktu terjadinya banjir. Kedua, fitur verifikasi yang memanfaatkan CCTV jalan dengan teknologi computer vision YOLOv8 untuk mendeteksi kenaikan air di area yang rawan banjir. Ketiga, sistem peringatan dini (alert system) yang mengirimkan notifikasi potensi banjir melalui SMS kepada masyarakat, dengan rencana pengembangan sistem komunikasi dua arah agar warga dapat meminta bantuan atau panduan evakuasi.
Ajang AI Ready ASEAN Youth Challenge ini diselenggarakan oleh ASEAN Foundation, AI Singapore, dan AngelHack, serta diikuti oleh perwakilan dari 11 negara ASEAN. Presentasi inovasi dilakukan dalam sesi pameran booth yang dinilai oleh juri dari organisasi penyelenggara. Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah menteri dari negara ASEAN, termasuk Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia, dan disaksikan langsung oleh Presiden Singapura.
Ari Aziz mengungkapkan rasa bangganya karena dapat membawa nama Indonesia di kancah regional. “Kami merasa punya tanggung jawab besar karena membawa nama Indonesia. Apalagi saat pitching langsung di depan banyak orang termasuk Presiden Singapura menggunakan bahasa Inggris, jadi cukup deg-degan,” ujarnya.
Selain prestasi teknis, kompetisi ini juga memberikan pengalaman berharga bagi para peserta. Jason Edward Salim menyatakan bahwa interaksi dengan peserta dari berbagai negara membuka wawasannya tentang teknologi dan kehidupan. “Dari setiap kekalahan, sebenarnya satu langkah lebih dekat menuju kemenangan. Just enjoy the journey,” katanya. Tiffany Chu menambahkan bahwa kesempatan bertemu dan menjalin koneksi dengan teman-teman ASEAN menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Kompetisi ideathon ini memiliki tujuan untuk memberdayakan generasi muda Asia Tenggara dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk kepentingan sosial. Selain meningkatkan literasi AI dan kolaborasi regional, ajang ini mendorong lahirnya solusi yang berdampak nyata, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Ke depannya, tim “Iseng Hackaton” berencana mengembangkan sistem alert Noah AI menjadi two-way SMS agar komunikasi dengan masyarakat lebih interaktif dan efektif dalam situasi darurat banjir. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi teknologi yang membantu mitigasi bencana banjir di Indonesia dan kawasan ASEAN secara lebih terpadu.
Dengan keberhasilan ini, Noah AI bukan hanya menjadi kebanggaan bagi ITB dan Indonesia, tetapi juga menunjukkan potensi teknologi lokal dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Inovasi seperti Noah AI diharapkan terus didukung agar dapat diimplementasikan secara luas demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan