Media Kampung – Vibe coding, istilah yang dipopulerkan Andrej Karpathy dari OpenAI, kini menjadi sorotan karena kemampuannya menulis kode dari deskripsi bahasa sehari-hari, namun tetap tidak menggantikan peran programmer.
Fenomena ini terlihat di West Virginia, di mana seorang pemilik gudang membangun sistem otomasi pengiriman sendiri hanya dengan memberi perintah pada AI, serta di California, seorang kreator non‑teknis meluncurkan aplikasi ke App Store melalui deskripsi fitur kepada AI.
Dalam konteks sistem informasi organisasi, aturan bisnis berlapis, pengecualian operasional, integrasi modul, serta kebutuhan keamanan data sering saling berinteraksi, sehingga satu perubahan dapat menimbulkan efek domino yang tak terdeteksi tanpa pemahaman arsitektur menyeluruh.
“Programmer dan engineer tetap dibutuhkan — justru semakin dibutuhkan — untuk memastikan bahwa sistem yang dibangun, baik oleh manusia maupun AI, benar-benar bisa diandalkan dalam jangka panjang,” kata seorang engineer senior yang tidak disebutkan namanya.
AI masih dapat membuat kesalahan logis ketika dihadapkan pada permasalahan saling terkait, karena belum mampu menilai mengapa suatu kebutuhan ada atau bagaimana dampaknya pada komponen lain.
Pengguna non‑programmer yang memiliki pemahaman jelas tentang alur kerja, input, dan output dapat memanfaatkan vibe coding untuk menghasilkan solusi cepat, sementara mereka yang datang dengan gambaran kabur biasanya mengalami frustrasi.
Keberhasilan vibe coding sangat tergantung pada kemampuan pengguna merencanakan solusi secara detail, karena AI hanya mengeksekusi perintah, bukan merancang strategi.
Otomasi kebutuhan operasional ringan menjadi bidang di mana vibe coding bersinar, seperti mencatat transaksi harian, membuat laporan sederhana dari spreadsheet, atau menyusun form digital internal.
Bagi UMKM, staf administrasi, atau dosen yang ingin mengotomasi rekap nilai, vibe coding menjadi jembatan yang mengurangi ketergantungan pada vendor atau tim IT.
Dengan kemampuan membangun solusi kecil yang tepat sasaran dalam waktu singkat, vibe coding mengisi celah yang sebelumnya dianggap terlalu kecil untuk proyek formal namun terlalu penting untuk dibiarkan manual.
Pada akhirnya, vibe coding dan rekayasa perangkat lunak profesional tidak bersaing melainkan melengkapi, masing‑masing melayani skala dan kompleksitas yang berbeda.
Pengembangan digital kini terbuka bagi jutaan orang, namun fondasi teknik tetap menjadi penopang utama agar sistem dapat diandalkan dalam jangka panjang.
Perubahan yang diperlukan adalah cara mendistribusikan pekerjaan antara manusia, AI, dan pengguna non‑teknis, bukan pertanyaan apakah programmer akan hilang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan