Media Kampung – Israel mengakui bahwa pasukannya merusak biara Katolik Lebanon di desa Yaroun, selatan Lebanon, pada operasi militer yang dilakukan pada 2 Mei 2026. Pengakuan itu disampaikan oleh juru bicara militer Israel, Kolonel Avichay Adraee, melalui konferensi pers resmi.
Militer Israel menyatakan bahwa biara tersebut diduga dijadikan basis peluncuran roket oleh kelompok Hizbullah, sehingga dianggap sebagai target sah untuk menghentikan ancaman lintas batas. Pihak Israel menegaskan tidak ada tanda-tanda keagamaan pada bangunan saat inspeksi visual.
Gladys Sabbagh, pimpinan umum Suster Salvatorian yang mengelola biara, mengonfirmasi bahwa kompleks itu hanya dipakai untuk kegiatan keagamaan, pendidikan, dan layanan kesehatan masyarakat. “Kami mendengar kabar bahwa biara tersebut telah dihancurkan menggunakan buldoser,” ujar Sabbagh kepada The Times of Israel.
Gereja Katolik Lebanon secara tegas menolak tuduhan penggunaan biara sebagai basis militer. Direktur Pusat Informasi Katolik, Pendeta Abdo Abou Kassm, menegaskan, “Kami menentang semua praktik yang menyerang tempat ibadah karena ini bukan pangkalan militer.”
L’Oeuvre d’Orient, badan amal Katolik asal Prancis, mengecam tindakan Israel sebagai serangan yang disengaja terhadap tempat ibadah umat Kristen. Pernyataan mereka menambah tekanan internasional pada pemerintah Israel.
Insiden ini menambah ketegangan di perbatasan selatan Israel, di mana bentrokan antara pasukan Israel dan milisi Hizbullah terus berlanjut sejak akhir 2024. Konflik berkepanjangan telah menimbulkan lebih dari 150 insiden intimidasi terhadap komunitas Kristen di wilayah tersebut, menurut laporan Pusat Pendidikan dan Dialog Rossing.
Dua tentara Israel baru saja dijatuhi hukuman penjara 30 hari karena merusak patung Yesus di desa Debl, selatan Lebanon, yang menambah sorotan internasional pada tindakan vandalisme militer Israel. Foto aksi tersebut beredar luas di media sosial.
Penegakan disiplin militer Israel dianggap sebagai upaya untuk meredam kecaman global, namun pihak militer belum memberikan klarifikasi lebih lanjut mengenai prosedur identifikasi target dalam operasi tersebut.
Laporan L’Oeuvre d’Orient menilai bahwa penghancuran biara merupakan bagian dari strategi Israel untuk mencegah warga setempat kembali ke rumah mereka, meski tidak ada bukti konkret yang mengaitkan biara dengan kegiatan militer.
Sejumlah saksi lokal melaporkan suara ledakan dan getaran tanah pada pagi hari sebelum serangan, namun tidak ada saksi yang melihat keberadaan senjata di dalam kompleks biara.
Pihak Kementerian Luar Negeri Israel membantah bahwa mereka menghancurkan biara secara total, menyatakan kerusakan terbatas pada struktur eksternal yang dianggap mengancam keamanan.
Observasi satelit menunjukkan kerusakan pada atap dan dinding barat biara, sementara bagian interior tetap relatif utuh, menurut analisis lembaga pemantauan independen Mediakampung.com.
Komunitas internasional, termasuk Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, meminta penyelidikan independen atas insiden ini, menyoroti pentingnya perlindungan situs keagamaan dalam zona konflik.
Hingga kini, tidak ada keputusan resmi mengenai reparasi atau kompensasi bagi Suster Salvatorian maupun warga setempat yang terdampak.
Perkembangan selanjutnya akan tergantung pada respons diplomatik Israel serta tekanan lembaga hak asasi manusia yang terus memantau situasi di Lebanon selatan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan