Media Kampung – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik keras proposal Iran yang menunda pembahasan program nuklir, sambil menyiapkan respons militer dan ekonomi.
Dalam pernyataan via Truth Social pada 27 April 2026, Trump menilai Iran tidak mampu mengatur diri sendiri dan harus bertindak cerdas terkait kesepakatan nuklir.
Proposal Iran, yang disampaikan melalui perantara Pakistan, menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade laut AS, sekaligus menunda perundingan nuklir ke tahap berikutnya.
Trump menolak tawaran tersebut, menegaskan bahwa program nuklir Iran tetap menjadi prioritas utama dalam setiap negosiasi.
Pengajuan proposal itu muncul setelah gencatan senjata dua minggu yang dimulai 7 April 2026 berakhir tanpa kesepakatan pada pertemuan di Islamabad pada 11‑12 April.
Ketegangan kembali memuncak ketika Trump memperpanjang gencatan senjata secara sepihak pada 27 April, tanpa batas waktu, sebagai upaya memberi ruang bagi negosiasi kembali.
Menurut laporan media, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengajukan proposal tersebut dalam kunjungan ke Pakistan, Oman, dan Rusia dalam 72 jam terakhir.
Araghchi menyampaikan bahwa Iran tidak memasukkan pembahasan penghentian program nuklir dalam tawaran, melainkan fokus pada pembukaan Selat Hormuz dan keamanan regional.
Negosiasi di Muscat, Oman, melibatkan pejabat intelijen senior dari beberapa negara, yang menekankan pentingnya jaminan keamanan maritim.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan bahwa Iran sudah mengetahui syarat yang harus dipenuhi, namun ia tetap menolak menunda isu nuklir.
Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, menyatakan bahwa AS tidak akan bernegosiasi melalui media dan hanya akan menerima kesepakatan yang menjamin tidak ada senjata nuklir Iran.
Pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya melaporkan bahwa blokade ekonomi terhadap pelabuhan Iran sedang dipersiapkan sebagai alternatif tekanan.
Strategi blokade ini dimaksudkan untuk menguras cadangan devisa Tehran, memaksa Tehran menyerahkan uranium yang diperkaya dan menghentikan program nuklir total.
Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump menilai blokade memiliki risiko lebih kecil dibandingkan operasi militer besar‑bESAR.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa blokade dapat menimbulkan dampak pada harga energi global dan mengganggu perdagangan di Selat Hormuz.
Analisis Brookings Institution mencatat bahwa Iran memiliki kemampuan bertahan yang cukup untuk menahan tekanan ekonomi jangka panjang.
Senator Lindsey Graham mendesak pemerintah untuk terus menekan Tehran, sementara beberapa pengusaha mengkhawatirkan konsekuensi ekonomi politik menjelang pemilihan paruh waktu November.
Sejak serangan gabungan AS‑Israel pada 28 Februari 2026, Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta negara‑negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Gencatan senjata sementara yang ditetapkan pada 7 April menahan pertempuran, namun tidak menyelesaikan isu-isu strategis antara kedua pihak.
Negosiasi damai yang difasilitasi Pakistan pada awal April gagal menghasilkan kesepakatan, memicu Trump memperpanjang gencatan senjata secara unilateral.
Pada 28 April, Trump mengklaim Iran berada dalam “keadaan kolaps” dan mendesak Washington membuka kembali Selat Hormuz secepatnya.
Namun, tidak ada konfirmasi resmi dari pihak Tehran mengenai komunikasi tersebut, menambah ketidakpastian situasi.
Dalam konteks geopolitik, Iran tampak belajar dari kegagalan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) dan berusaha membangun dukungan politik regional.
Araghchi mengunjungi St Petersburg untuk berdiskusi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, memperkuat aliansi strategis Iran dengan Moskow.
Para analis menilai bahwa langkah Iran menunda isu nuklir dapat menjadi taktik membeli waktu sambil mengamankan dukungan regional.
Trump menegaskan bahwa AS siap menghadapi blokade Iran yang berkelanjutan jika Tehran tidak mengubah kebijakan nuklirnya.
Presiden menambahkan bahwa Amerika Serikat akan tetap menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, meski tekanan ekonomi terus meningkat.
Dengan ketegangan yang terus meningkat, kondisi terbaru menunjukkan bahwa negosiasi masih terhenti, dan kedua belah pihak bersiap untuk langkah selanjutnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan