Media Kampung – Aksi Jumat untuk Palestina di Kedubes Amerika Serikat digelar pada Jumat, 19 April 2024, dengan ribuan peserta mengungkapkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.

Aksi tersebut diprakarsai oleh komunitas diaspora Palestina dan kelompok aktivis hak asasi manusia, yang menuntut pengakhiran serangan militer di Gaza.

Para demonstran membawa spanduk berisi slogan “Stop Genosida di Gaza” dan “Bebaskan Palestina”, serta menyalakan lilin sebagai simbol perdamaian.

Aliansi Warga Gaza (AWG) turut berpartisipasi, menekankan kebutuhan perlindungan khusus bagi Rumah Sakit Indonesia yang beroperasi di wilayah Gaza.

Seorang juru bicara AWG, Ahmad Syarif, menyatakan, “Kami menuntut pemerintah Indonesia memastikan keamanan RS Indonesia agar dapat terus memberikan layanan medis kepada warga Gaza yang terluka.”

Rumah Sakit Indonesia di Gaza, yang didirikan pada 2022, kini menghadapi ancaman penargetan karena kedekatannya dengan fasilitas militer Israel.

AWG menuntut langkah konkret, termasuk penarikan Indonesia dari Board of Peace yang dibentuk pada era pemerintahan Donald Trump, yang dianggap tidak efektif melindungi fasilitas kemanusiaan.

Pemerintah Indonesia selama ini mendukung resolusi PBB yang menolak pendudukan dan menyerukan solusi dua negara.

Board of Peace Donald Trump, yang dibentuk pada 2020, dianggap oleh AWG sebagai instrumen diplomasi yang tidak memihak kepada Palestina.

AWG menegaskan bahwa keanggotaan Indonesia dalam dewan tersebut dapat menurunkan kredibilitas upaya perlindungan rumah sakit di Gaza.

Kementerian Luar Negeri Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penarikan diri dari dewan tersebut, namun menyatakan komitmen pada perlindungan warga sipil.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta menanggapi aksi dengan menyatakan dukungan terhadap hak asasi manusia tanpa mengomentari posisi politik Indonesia.

Aksi serupa telah terjadi di beberapa kota besar dunia, termasuk London dan Paris, sebagai bagian dari kampanye global menentang kekerasan di Gaza.

Kondisi kemanusiaan di Gaza semakin memprihatinkan, dengan kurangnya pasokan obat dan listrik yang menghambat operasi rumah sakit.

Berbagai organisasi internasional, termasuk WHO, menyerukan perlindungan tegas terhadap fasilitas kesehatan sebagai prioritas humaniter.

Indonesia telah mengirimkan bantuan medis senilai US$10 juta ke Gaza, termasuk peralatan ventilator dan obat-obatan penting.

Pertemuan bilateral antara pejabat Indonesia dan perwakilan PBB diperkirakan akan dibahas pada akhir bulan ini.

Di Indonesia, survei publik menunjukkan mayoritas warga mendukung langkah pemerintah untuk melindungi rumah sakit Indonesia di Gaza.

Jika pemerintah menurunkan keanggotaan dari Board of Peace, hal itu dapat memperkuat posisi diplomatik Indonesia dalam forum internasional.

Sampai kini, belum ada keputusan final, namun AWG terus menekan pemerintah melalui petisi dan media sosial.

Kondisi terkini menunjukkan bahwa rumah sakit Indonesia masih beroperasi dengan keterbatasan, menunggu kepastian perlindungan dari pemerintah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.